Kamis, 20 September 2012

Yang Tersisa dari Pilkada DKI 1

Berakhir sudah pertarungan Pilkada DKI 1. Kemenangan diraih oleh pasukan naga emas. Kemenangan ini diperoleh dengan perjuangan berat.

Seminggu sebelum terjadinya pemungutan suara, jagad bathin sudah bergolak hebat. Masing-masing kubu menyiapkan segala ubo rampenya. Menyiapkan kekuatan lahir dan bathin. Jauh-jauh hari menjalani topo laku prehaten, puasa, melek dan latihan fisik. Bulan puasa memberikan dukungan penuh bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan diri.

Putaran pertama membuat kedua belah pihak sudah mengerti  kemampuan lawan. Hal ini membuat mereka mampu mengukur sejauh mana kemampuan diri harus ditingkatkan untuk menghadapi lawan di putaran berikutnya.

Dukungan pasukan tambahan adalah pasukan dari ambarawa bagi kubu demit ireng dari khayangan. Karena dua pasukan yang berbeda karakter akhirnya menyebabkan bagian tim sukses mereka suka berantem. Dukungan tambahan pasukan dhemit rieng adalah kekuatan energi yang berasal doa-doa dari berbagai pesantren dengan dalih kepemimpinan yang berdasarkan sunnah Rosul. Terlihat masih ada lagi pasokan energi api dan emas tetapi masih sangat relatif kecil, tidak terlalu signifikan kontribusinya nanti saat pertempuran.

Pasukan naga emas juga tidak mau kalah. Kekuatan mereka ditambah dengan sepasang buaya emas Raksasa dari kotagede, kagungan Panembahan Senopati. Mereka menambah kekuatan dengan poso, laku, melek dan senantiasa tidak melepaskan diri dari kekuatan doa wirid yang tidak ada putusnya. Sebenarnya secara jumlah pasukan naga emas jauh dibawah pasukan dhemit ireng, karena pasukan dhemit ireng memang sengaja didatangkan dari negerinya untuk mendukung kemenangan ini. Harapan dhemit ireng dengan terpilih pemimpin yang didukung akan memberi kesempatan kepada rakyatnya ambil bagian di nusantara ini.

Pasukan naga emas di detik-detik terakhir perjuangannya kedatangan romobongan. Rombongan dari para sesepuh yang pernah memimpin negeri ini. rombongan ini akan mendukung pasukan naga emas karena tahu yang didukung adalah pemimpin yang merakyat, bersahaja dan sederhana yang memang dikehendaki para kawulanya. Penjaga Pulau Jawa, Romo BK, Panembahan Senopati, Ratu Tri Buana Tungga Dewi, Kakek Datuk MAcam Kombang, Sri Sultan HB ke IX. Semuanya rawuh dan segera menempatkan diri pada posisinya masing-masing. Membantu para pejuang mencapai kebesaran rakyatnya.

Perang tanding tak terhenti. Naga emas raksasa pengawal Ahok sempat pingsan terkena serangan maut. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Perang,  tidak di jagad nyata tidak di jagad ghaib hanya mengorbankan rakyat-rakyat kecil yang tak berdaya. Ribuan pasukan berjatuhan dan mati. Dan inilah yang tersisa dari Pilkada DKI 1.

Mayat-mayat berserakan. Semua tampak kotor, semrawut, berantakan. Menyisakan tangis luka bagi prajurit yang terluka. Menyisakan kekalahan dan kehancuran bagi pasukan dhemit ireng dan membuat mereka kembali dengan menundukkan kepala karena telah kalah di medan laga. Terlihat di bahu mereka jasad-jasad teman-teman mereka yang sudah mendahului meninggalkan mereka. Begitu juga dengan pasukan naga emas. Walaupun kemenangan telah diraihnya, tetapi emreka juga harus mengumpulkan jasad-jasad kaum kerabatnya yang telah mendahului, mengobati teman-temannya yang terluka. Membawanya kembali ke negerinya dengan isak tangis. Campur baur antara suka dan duka dalam kemenangan.

Sementara itu penonton yang  memenuhi langit Jawa, membuat kelabu dan mendung perlahan-lahan mengikuti antrian segera berduyun-duyun kembali lagi ke asalnya. Penonton ini kadang-kadang suka memancing di air keruh, suka memanfaatkan kesempatan untuk membuat kisruh, nimbrung dan iseng. Tapi kali ini mereka tidak bisa berbuat banyak, sang wasit sudah siap dengan penthungan ghaibnya jika mereka berbuat ulah. Jagad ghaib yang tidak berbatas ruang dan waktu emmbuat segalanya menjadi mungkin, gamblang karena semuanya terlihat jelas, tidak ada yang tertutup sama sekali.

Perang adalah tangis kepedihan bagi yang kalah, dan pekik kemengangan bagi yang meraihnya.
yang sama adalah korban jiwa, kehancuran, perngorbanan harta dan diri.

akankah terwujud mimpi ini menjadikan negeri ini menjadi negeri emas dengan damai, semua berjalan baik tidak saling sikut menyikut. Hingga tidak lagi diri ini melihat korban berjatuhan untuk sesuatu yang sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar