Pilkada adalah ajang pertarungan, pertarungan untuk sebuah kemenangan. Banyak yang dipertarungkan, mulai dari penampilan, gagasan, ide, figur, massa, trik, cara atau bahkan ada yang pura-pura menjual idealisme untuk sebuah kemenangan. Pertarungan yang banyak melahirkan pelacur-pelacur, pelacur proyek, pelacur makelar, pelacur idealisme, pelacur politik, pelacur kekuasaan.
Menjual dirinya sendiri untuk sebuah kemenangam demi kekuasaan. Kekuasaan yang begitu menggiurkan, memabukkan dan mampu membutakan mata hati orang-orang yang menginginkannya. Hingga mereka mampu melakukan apapun, menghalalkan segala cara untuk memenangkannya. Semua dijual, bahkan rela menjual harga dirinya hanya untuk sebuah kursi kekuasaan yang tidak akan dibawanya mati. Yang tidak akan memberikan amal kebaikan jika disalahgunakan, akhirnya kekuasaan bukan lagi amanah, tapi menjadi penjahat.
Ketika jagad lahir mulai bergemuruh, pertanda dunia pergerakan politik sudah mulai panas, mesin-mesin mulai bekerja untuk menentukan tokoh, untuk mencari figur, pertaruhan-pertaruhan telah dimulai. Calon-calon pemimpin sudah mulai bergeliat melihat dan menjajaki arah perkembangan, maka demikian juga yang terjadi di jagad bathin. Jagad bathin mulai bergolak, saat ada pertaruhan, maka dunia bathin bergerak dengan arah yang sama. Pilkada DKI melibatkan banyak figur, melibatkan banyak uang, pertanda sebuah eksistensi kekuasaan yang sangat besar, maka selain menarik bagi manusia, peristiwa ini juga menarik bagi mahluk penghuni bathin.
Banyak manusia yang meminta pertolongan secara spiritual, secara mistis, walaupun lebih banyak yang dilakukan secara diam-diam, karena takut dibilang musrik atau mistis, tetapi demikianlah faktanya yang terjadi. Bibir boleh saja berkata tidak, tetapi faktanya, dunia bathin bergolak dan mulai banyak mahluk-mahluk beriring-iringan, mulai bekerja untuk memenangkan salah satu pihak. Pertanda sudah mulai ada permintaan dari kelompok-kelompok tertentu untuk bekerja memenangkan kelompoknya masing-masing.
Pergerakan mistis bukan hanya dari kedua belah pihak saja. Namanya dunia bathin bukanlah dunia manusia, ada hal-hal yang tidak bisa dipahami dan itu adalah hal yang biasa terjadi di dunia itu, sesuatu hal yang sangat sulit terjadi di dunia manusia. Banyak mahluk yang berkumpul, dari berbagai macam jenisnya. mereka semua ikut nimbrung, awalnya yang hanya menjadi penonton, kemudian terjun ke arena sekedar iseng ikut-ikutan memihak atas nama biar pertarungan bisa berlangsung lebih seru. Terlihat juga manusia, sebagai pelaku spiritual menggunakan ajang pilkada DKI sebagai ajang latihan untuk menempa dirinya, ajang latihan. Hahaha, di dunia bathin ini iseng dan latihan, padahal mereka tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya di dunia nyata, di dunia kehidupan manusia.
Semua kekuatan bathin seakan tumpah ruah di jantung ibukota negeri ini, seakan-akan pusat perhatian hanya ditujukan ke sini. Hal ini bisa diyakini, saat semua senior penguasa negeri ini ada di belakang layar pilkada DKI. Bukan itu saja, artinya segenap pendukung bathin mereka juga otomatis akan ikut bergerak menjadi pesertanya, perang tanding kekuatan bathin, menurunkan semua pasukan-pasukan yang dimilikinya. Kemenangan Jakarta adalah sebuah harga diri, sebuah kemenangan eksistensi.
Kisah yang menarik adalah saat peperangan bathin dimulai, saat pasukan-pasukan komando para calon digerakkan, semua bergerak mengambil posisi masing-masing. Ada yang memang berasal dari pasangan-pasangan calon, ada penonton, tetapi di dalamnya ternyata banyak penumpang gelap yang ikut hadir di sana. Sayangnya, kali ini pelaku yang sesungguhnya justru kalah kuat dari penimbrungnya. Memang kali ini penonton dan mereka yang hanya sekedar latihan ini mempunyai watak ora nggenah, namanya juga hanya iseng tanpa kepentingan akhirnya pilkada DKI justru menjadi ajang permainan dengan kekisruhan di sana-sini. Pendatang justru lebih kuat dari yang didatangi, akhirnya pengendali justru datang dari mereka yang tidak punya kepentingan.
Yang muncul di arena ini, sebagian besar adalah pemain-pemain lama, sebagai pendukung kekuatan. Kelompok dari Banten dengan kekuatan wirid dan pasukan silumannya. Kekuatan dari Jawa Timur dengan seorang kakek berkulit hitam legam dengan kekuatan cerahnya matahari, hadirnya drubikso dari Jawa Timur, dan sebagian adalah kekuatan dari Jawa Tengah dan sekitarnya. terlihat juga kedatangan sebuah mahluk dari pulau bagian barat dan sebagian pulau bagian timur negeri ini. Sedang mereka para mahluk merdeka tanpa tuan justru datang dengan kekuatan yang lebih besar daripada mahluk yang bertuan. Mahluk baru berwarna merah, seperti kaki seribu dengan besar seukuran pulau Jawa.
Tubuhnya dibalut rambut berwarna merah, dengan bola-bola kecil di ujung rambutnya yang sekaligus berfungsi sebagai kakinya. Bola lentur yang bisa bergerak dan melenting dengan sangat cepat. sesekali dari tubuhnya keluar kilatan api yang berasal dari cahaya bulu-bulunya. Setiap gerakan dan gulingannya membuat suasana semakin meriah. Ketika ada mahluk lain yang menyerang, sebagian rambutnya keluar dari tubuhnya dan berubah menjadi sangat keras dan panas, laksana paku yang siap menghantam musuhnya. Pemandangan yang luar biasa.
Beragam mahluk beterbaran, masing-masing jenis dan warnanya. Dari berbagai macam naga dan ular, berbagai macam burung dan buaya, bahkan lintah-lintah dengan segala modelnya. Tampak mereka bertebaran di darat dan di udara. Jagad bathin yang tanpa batas ruang dan waktu membuat semua bergerak dengan serunya. Terlihat sebuah mahluk seperti ikan pari yang sekali-kali terbang menyambar segala sesuatu yang ada di hadapannya. Ada juga buaya hitam dengan garis kuning kekemasan di bagian lehernya, buaya Ciliwung yang sedang bertapapun akhirnya keluar dari persembunyiannya mengikuti ajang lima tahunan, pesta spiritual.
Sesekali terlihat ekornya bergerak naik turun mengepak dan menyamplak mahluk-mahluk yang ada di sekitarnya. setiap gerakan ekornya menimbulkan suara gemuruh dengan diikuti angin puting beliung yang menghempas. Naga kuning baru posisi bersiap, mereka lebih kalem, bukan jenis mahluk pecicilan bagaikan demit-demit penyenyengan. Posisi bersiaga untuk menunggu serangan, bertahan.
Semua mahluk ini bercampur menjadi satu dan menempati posisi yang berpindah-pindah. Ibarat bermain jungkat jungkit, mereka suka-suka menempatkan dirinya. Ketika ada salah satu kandidat yang mulai goyah, mereka menguatkan yang goyah supaya tidak jadi jatuh dan bangkit lagi, begitu seterusnya berulang-ulang. Demikian seterusnya, hingga konstelasi menjadi semakin seru. Bahkan ketika ada salah satu calon yang sudah demikian besar rasa percaya dirinya, baik kemampuan maupun dukungan yang ada di belakangnya, membuat si calon ini menjadi bulan-bulanan keisengan para pendatang. Beramai-ramai mereka berusaha menarik ke bawah agar jatuh, menjadi sebuah ajang tontonan yang sangat menarik di jagad maya. Mendebarkan. Ketika ada yang jatuh dan berhasil dikalahkan, tepuk tangan dan sorak sorai bergemuruh.
Padahal ini baru sebuah awal, masih pemanasan, belum perang yang sesungguhnya. Masing-masing pihak masih bermain dengan setengah hati, terlihat di setiap wajah masih terdapat senyum-senyum simpul penuh kebahagiaan, bagaikan anak kecil bermain dijernihnya air sungai, bajunya basah dan mereka sangat bergembira. Baru sekedar penjajakan kekuatan masing-masing mahluk, belum ada yang mengeluarkan segenap kekuatannya untuk bertaruh nyawa. Sesuatu yang tertangkap jelas di dunia bathin, sebuah representasi dari dunia nyata adalah bahwa ada yang secara lahiriah sudah mendeklarasikan dukungan, ternyata itu hanya di lakukan di bibir saja.
Tidak ada pergerakan yang terbaca dari simbol-simbol yang selama ini bergerak, dukungan setengah hati, atas nama pencitraan dan asal bapak senang. Atas nama kepentingan, dol tinuku, akhirnya pertaruhan hanyalah di bibir saja, bukan dukungan dengan hati. Dunia bathin sangatlah jelas dan tidak bisa disamarkan.
Dunia bathin dan dunia nyata selalu mempunyai jarak, rentang antara peristiwa. Kejadian di dunia bathin akan terjadi beberapa waktu kemudian di dunia nyata. Semuanya harus dipersiapkan, perbedaan perputaran waktu di dua dunia sangatlah berbeda. Saat ini dikerjakan baru akan sampai beberapa waktu kemudian. Dalam ketidakjelasan, tanpa wasit, tanpa pengendali maka semua bergerak semau-maunya. Pertempuran demi pertempuran kecil terjadi, dan akhirnya bisa kita baca bersama di dunia nyata, betapa gejolak pilkada masih terus memanas. Tidak jelas siapa pelaku aslinya, siapa penumpang gelapnya, siapa yang hanya ikut-ikutan. Semua berbaur menjadi satu.
Dan seperti biasa, dalam sebuah kekisruhan selalu saja ada yang mendompleng, mencari kesempatan menjadi penumpang gelap, kaum opportunis yang selalu mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Banyak yang muncul untuk memanfaatkan momentum politik berharap untuk menjadi pijakan pada kekuasaan berikutnya. Menyusup, bersuara dan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Di publik dia muncul seakan-akan memberi nasehat, menjadi penengah, di balik layar dia memakai strategi untuk membunuh lawan-lawannya yang dianggap akan membahayakan posisinya di kemudian hari. Banyak juga yang sedang mengamati, mencari celah, mencari kesempatan untuk muncul sebagai pahlawan kesiangan. Berlomba-lomba berebut panggung yang sangat luas tersedia. Suara dan polemik bersahut-sahutan di sana-sini.
Berbeda dengan pilkada DKI sebelumnya ketika ada wasit yang membatasi dengan berbagai macam aturan di dalamnya, membuat para mahluk menggerutu karena ajang pertempuran tidak seru. Kali ini pilkada DKI terjadi tanpa wasit tanpa aturan, dan hahaha terlihat si wasit ikut nimbrung dan ngisruh di dalamnya, karena dia kali ini tidak sedang menjalankan tugas menjaga jagad bathin. Maklumlah, semakin maklum kenapa semuanya menjadi seru dan bergemuruh. Pantas saja, pantas saja.
Tidak bisa kita melihat dari sudut pandang yang sama untuk sesuatu kejadian di dunia yang berbeda, tidak bisa kita memaksakan kehendak seperti lumrahnya yang terjadi di dunia nyata yang normatif. Melihat bagian lain yang berbeda harus menggunakan kacamata yang berbeda supaya tidak salah dalam mengambil sikap. Keriuhan dan kekisruhan pertempuran di dunia bathin, adalah sebuah tontonan yang demikian menarik lengkap dengan segala kelucuan dan keseruannya. Kita sebagai penonton tidak boleh mengatakan bahwa itu tidak pantas dan tidak boleh, karena dunia bathin mempunyai hukum sendiri yang berbeda dengan hukum manusia.
Memang segala kejadian dunia bathin akan berkaitan langsung dengan dunia nyata, tetapi sekali lagi ini adalah dunia mereka, dan dunia lain di mana hukum berjalan sendiri-sendiri. Negeri ini sedang dalam perputaran perubahan etape kedua, dimana setiap putaran perubahan pasti akan menghendaki korban apapun bentuknya, perputaran adalah sebuah kejadian, kejadian adalah pasti dilengkapi dengan segala suka dan dukanya, pahit getirnya. Menjadi penonton dan bukan pelaku, menjadi pendengar dan bukan eksekutor juga adalah bagian dari takdir kehidupan.
Masih melihat seluruh kejadian kehidupan di dua dunia yang berbeda. Seandainya ada kementerian dunia sihir layaknya Harry Potter, maka kementerian ini sangat dibutuhkan di negeri ini, agar bisa menjadi wasit dan membawa arah perjalanan putaran negeri menjadi lebih baik. Eh, tapi perputaran tanpa kekisruhan adalah sebuah sayur tanpa garam, dan tontonannya menjadi tidak menarik. Rusak, rusak. Byusuk, byusuk. Bukankah setiap cerita selalu menarik jika ada konfliknya. Semua sedang berjalan, dan kita harus menunggu kelanjutan cerita ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar