"Anakku, bahagia rasa hatiku melihat proses yang kau lalui sejauh ini.
Perjalanan yang panjang dan penuh dengan lika-liku bisa kau lewati tahap
demi tahap dengan gemilang. Bukan bagus tapi kegemilangan adalah
dihitung dari jarak yang telah kau tempuh, sebuah perjalanan batin, di
mana engkau bisa melihat bagian demi bagian dengan sangat baik. Tidak
mudah anakku, bahkan jauh lebih banyak yang tidak mampu melewati
sebagian saja yang kau lewati, dan engkau anakku, engkau mampu melewati
dengan baik, dengan bermodalkan kekurangajaran, cengeng, ati sak tumlik,
nangisan, dan tentu saja kendablekanmu yang luar biasa itu merupakan
kekuatan terbesar dalam langkahmu."
"Anakku, anak negeri. Kami semua turut bergembira untuk semua capaian
ini. Capaian yang luar biasa, dan kami hanya bisa berdecak kagum, ketika
engkau mampu melihat bagaimana lembaran-lembaran tipis yang mewakili
berbagai macam perasaan manusia melilit ke dalam bagian-bagian tubuh"
"Banyak yang bisa memahami mahluk-mahluk simbol dari nafsu, karakter dan
emosi. Walaupun banyak juga yang tidak bisa membaca simbol demi simbol
itu. Kaitan satu dengan yang lain, bagian yang harus dikecilkan dan
dibesarkan, bagian yang harus dibuang dan bagian yang harus tetap
dipertahankan Hebatnya lagi engkau bisa memahami bagaimana menggunakan
untuk perjalanan negeri ini. Mengerti bahwa apa yang kau lakukan
terhadap dirimu sama saja dengan yang kau lakukan untuk negeri ini."
Aku masih bersujud di pangkuan bumi pertiwi, di tanah negeriku tempat
aku dilahirkkan, saat Gusti Ratu Kidul menyampaikan kalimat-kalimat di
atas. Sebuah kebahagiaan tiada terkira aku bisa sampai di sini, rasanya
aku sendiri tidak percaya dengan yang aku lakukan, semua yang aku lihat
dan semua yang aku rasakan. Setelah melalui kejadian-kejadian yang
bertubi-tubi dalam kehidupan lahiriah dan batiniah, ketika aku hampir
menyerah dalam keiklasan untuk semua yang aku alami. Tetapi keiklasan
menuntut sebuah niat dan tanggung jawab untuk tetap melangkah tanpa
mempertanyakan apa yang terjadi, harus siap menghadapi segala kejadian
dengan rasa yang sama, iklas dan tetap temandang.
Bisa aku katakan pahit, hidupku akhir-akhir ini penuh dengan kepahitan.
Lahiriah pekerjaan kantorku berantakan, aku tidak bisa melakukan
pekerjaan dengan baik. Ketika aku melihat keadaanku yang menjadi tempat
sampah mahluk-mahluk yang sering aku hadapi, dan mereka berpesta pora
menikmati energi dalam tubuhku, akibatnya aku jatuh lemah tak berdaya,
sakit ra jelas. Tugas dan tanggung jawab melekat tetapi semuanya tetap
harus dijalankan, yang paling berat justru menguatkan hati untuk bisa
terus berjalan dalam keadaan luka dan duka dengan air mata menghadapi
tantangan demi tantangan yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Sebuah perjalanan panjang tanpa ujung, sebuah perjalanan batin tanpa
batas dan tanpa aturan. Tidak ada pilihan kecuali berjalan dengan iklas,
seberat apapun tetap berjalan, akhirnya bukan lagi berat atau air mata,
tetapi maju terus apapun yang terjadi. Saat menghadapi berbagai
kesulitan yang ada, aku hanya sempat berpikir bagaimana mengatasi dan
melewatinya, akhirnya tidak ada tempat untuk duka dan air mata, tidak
ada tempat untuk merasakan berat, karena yang dipikirkan hanya bagaimana
keluar dari semua kesulitan ini. Bagaimana menyelamatkan diri dan
melewati bagian ini untuk masuk ke bagian berikutnya.
Aku merasakan sebuah perubahan, awal dari perubahan adalah saat aku
melakukan dua pekerjaan batin yang sama beratnya, pekerjaan yang
benar-benar menguras waktu, tenaga dan pikiranku hingga aku benar-benar
merasa sangat tak berdaya karena kehabisan energi. Dan dua orang ini
bisa dikatakan adalah orang yang sangat mampu secara materi, sangat jauh
bandingannya dengan diriku. Aku tidak bisa menceritakan bagaimana
beratnya aku melewati itu semua, tetapi lagi-lagi bahwa segala sesuatu
harus tetap dilakukan jika kita sudah mengatakan sanggup, sebuah
konsekuensi dari sebuah janji. Aku tahu aku mampu melakukannya, walaupun
aku tahu itu sangat tidak mudah.
Jika aku bicara pekerjaan maka sudah selayaknya aku akan menghitung
dengan nilai materi yang sangat besar untuk sebuah hasil yang memuaskan,
tetapi hal yang aku lakukan adalah hal-hal yang tidak mudah diceritakan
bagaimana aku menghadapi segala hal dengan segala lika-likunya.
Akhirnya atas nama laku dan iklas, temandang dan mlaku akhirnya aku
meniatkan di dalam diri, jika saja kita bersedekah kepada fakir miskin,
maka itu adalah hal yang biasa, tetapi jika kita bersedekah kepada
mereka yang berlebihan maka itu adalah hal yang tidak biasa. Aku
mengawali segala langkah dengan niat baik, sedekah bagi mereka. Karena
mereka semua adalah manusia biasa, ciptaan Tuhan, sama halnya manusia
miskin yang sedang membutuhkan sedekah, dan akhirnya aku bisa meneruskan
langkahku dengan rasa yang lebih ringan, ketika aku mengucapkan
keiklasan dalam sebuah sedekah. Bismillah aku bisa melangkah, dan bisa
mulai melanjutkan perjalanan.
Aku sangat meyakini bahwa setiap niat baik yang kita lakukan selalu ada
upahnya, upah lahir dan upah batin. Dan jika kita tidak mendapatkan upah
lahiriah maka kita akan mendapat upah batin berupa pahala yang menjadi
tanaman abadi buat kehidupan kita, dan bisa kita ujubkan dalam doa
sebagai tanaman untuk anak dan seluruh keturunan kita. Menyerakan
seluruh urusan dunia kepadaNya, dan melepaskan seluruh hitungan
matematika kepada Pemilik Kehidupan adalah sebuah jurus pamungkas dalam
menghadapi segala kesulitan. Lagi-lagi aku bersujud kepadaNya,
menyerahkan seluruh kehidupanku kepadaNya dalam sebuah rengkuhan tangan
semesta yang jauh lebih besar daripada tanganku sendiri.
"Anakku, kehidupan sesungguhnya adalah lahir dan mati, hanya dua bagian
itu yang paling utama. Semua kejadian yang menyertai dalam kehidupan
adalah pelengkap, aksesoris, hiasan dan bagian dari perjalanan. Kita
dilahirkan dalam keadaan sendiri, kosong, tanpa aksesoris, tanpa
hiasan. Demikian juga saat kita akan mati, sendiri dan kosong tanpa
apapun. Saat lahir dan mati adalah kosong dan sendiri jika kita lihat
secara lahiriah. Iya, tidak ada yang salah, semua benar adanya. Tetapi
jika engkau mau membuka mata hatimu, benarkah engkau sendirian, benarkah
engkau lahir dan mati dalam keadaan kosong?"
Aku menunduk, tanpa kusadari hatiku merasa pilu, wajahku merebak hangat,
dan aku merasakan mataku mulai basah. Sebuah penjelasan dengan akhiran
pertanyaan yang mampu menghujam dalam jauh ke lubuk hatiku. Aku
terhenyak dalam sebuah kesadaran besar, bahwa saat kita lahir dan mati
itu tidak sendiri, tidak kosong, ada yang menyertai dari semua kejadian
kehidupan. Di mana amal dan soleh, doa-doa leluhur kita, restu kedua
orang tua kita menjadi bekal saat kita dilahirkan, dan saat kita mati
adalah doa-doa kita, doa-doa orang yang kita kasihi yang akan menemani
kita, juga amal soleh dan seluruh sedekah yang kita lakukan adalah bekal
yang tak terhingga. Dan sungguh kita tidak pernah datang dan pergi
dalam keadaan kosong.
Aku berhitung dengan diriku sendiri, melihat ke belakang untuk
seluruh perjalananku yang banyak diwarnai dengan kekelaman dan
langkah-langkah yang salah. Lagi-lagi aku bergidik membayangkan
semuanya, bahwa dengan tindakan dan pikiranku itu maka kegelapan yang
akan menyertai perjalananku nantinya. Mereka adalah penggelap jalanku,
sedangkan amal sedekah dengan keiklasan yang aku lakukan adalah bekal
sebagai penerang dalam perjalanan hidupku.
"Terimakasih Gusti Ratu, telah membantu dan menemani saya menemukan
sebuah hikmah kehidupan yang demikian besar, sesuatu yang tak ternilai,
pemahaman akan kejadian kehidupan."
"Anakku, semua ini tidak akan kamu peroleh jika kamu tidak melakukannya
dengan iklas untuk mereka yang benar-benar membutuhkan, dan kamu
mengambil keputusan untuk tetap melakukannya sendiri, tanpa berharap
imbalan dengan dilandasi niat baik. Dan karena niatmu inilah engkau
mendapatkan apa yang memang sudah seharusnya kau dapatkan. Semua itu
adalah anugrah kehidupan yang memang sudah menjadi jatahmu, takdirmu.
Bukankah engkau selalu meyakini, jika engkau melepaskan hal-hal duniawi
engkau akan mendapatkan upah yang tidak bersifat duniawi, dan inilah
yang kau peroleh untuk semua yang telah kau lepaskan."
Aku bangun dari sujudku, dan aku melihat sekeliling. Seperti biasa
banyak sesepuh yang hadir di sini, kali ini nuansa kuning ada hampir
pada semua yang aku lihat dengan mataku. Baju Gusti Ratu Kidul yang
hadir dengan warna kuning keemasan, tetapi kali ini ada beberapa
aksesori berwarna hitam pada garis-garis tepi bajunya yang benar-benar
pas di badannya. Baju lengan pendek tanpa kerah, dengan bentuk-bentuk
bordir hitam melengkung di seluruh pinggirannya. Demikian juga kali ini
Gusti Ratu mengenakan selendang hitam dengan bordiran kuning lengkung
di sepanjang pinggirannya. Mahkotanya yang dipakai kali ini berbeda dari
yang biasanya, mahkota seperti yang dipakai oleh Werkudara dari dunia
pewayangan, dengan intan berlian berwarna putih dan kuning, lagi-lagi
aku melihat sebagian warna hitam di bagian depan tengah pada mahkotanya.
Aku benar-benar mengagumi sosok yang luar biasa ini, sesepuh sekaligus
guruku yang akhir-akhir ini selalu menemaniku dalam melangkah. Udara
semerbak, lebih cerah karena cahaya seperti berubah menjadi kuning
keemasan, dan aku hanya bisa mengatakan bahwa suasana kali ini
benar-benar megah, berwibawa dan aku seperti tidak mampu berkata apa-apa
lagi.
Aku merasakan dalam sorotan mata sesepuh, sebuah restu yang tulus dan
dorongan semangat yang besar untuk aku melanjutkan seluruh langkah yang
harus lakukan, sebuah perjalanan negeri, sebuah langkah batin untuk
membalikkan keadaan negeri. Dan aku bangkit berdiri, saat sesepuh semua
mendekat kepadaku. Tak mampu lagi aku menahan diri saat Gusti Ratu
merengkuhku dalam pelukannya yang hangat dan menentramkan, tumpah sudah
semua tangisku, tangis kebahagiaan, tangis kelegaan, tangis duka dan
semua perasaan aku tumpahkan kepada Gusti Ratu yang semakin memelukku
erat.
Jagad batin negeri ini bergolak, untuk sebuah langkah yang baru saja aku
lakukan, membalikkan keadaan negeri. Jika beberapa waktu sebelumnya aku
memutar keadaan negeri, dan menimbulkan kegaduhan yang luar biasa. Maka
kali ini yang aku lakukan adalah membalikkan keadaan negeri. Atas dan
bawah dengan penampang yang berbeda, jika selama ini bagian bawah
penampang dihuni oleh mahluk-mahluk yang mewakili nafsu dan maksiat,
kekuasaan dan keserakahan, kemalasan dan kelicikan. Sedang di bagian
atas penampang adalah roh-roh lambang kebaikan, yang tidak bisa masuk ke
dalam jiwa penghuni negeri, karena tertutup oleh penampang. Akhirnya
kebaikan hanya menjadi sebuah wacana yang tertuang dalam kata-kata tanpa
ada perbuatan, negeri wacana, negeri kata-kata tetapi penuh dengan
kemunafikan, maksiat dan keserakahan.
Dan saat aku mampu membalikkannya, aku melihat mahluk-mahluk itu
ternyata sangat-sangat besar dengan segala bentuknya yang nggegirisi.
Ular sampai nggombyok seperti kumpulan jamur karang yang jika
diperhatikan lebih jauh adalah kumpulan ular-ular yang demikian banyak
yang membentuk gundukan demi gundukan. Pemandangan yang benar-benar
menjijikan, tetapi inilah pemandangan batin negeri ini. Belum lagi
lendir-lendir yang ada di sekitar mahluk-mahluk itu sungguh kotor, amis
dan sangat berbau. Benar-benar pekat, pertanda kehidupan kelam telah
menjadi bagian dari sebagian besar rakyat negeri ini. Mahluk-mahluk
menjijikkan yang beragam bentuknya itu saling menumpuk, saling menyedot,
saling bergesekan dan semua benar-benar mengerikan, mewakili seluruh
tingkah laku rakyat negeri ini. Selalu saja, aku belum bisa
menghilangkan perasaan mual saat melihat semua keadaan itu. Aku melihat
beberapa wajah mahluk itu tersenyum, artinya mereka sangat menikmati dan
bangga telah melakukan kemaksiatan dan keserakahan yang mengerikan.
Inilah karakter negeri saat ini, jauh dari ramah tamah, jauh dari baik
hati, jauh dari kebaikan, hilangnya nurani-nurani negeri. Aku hanya
mampu mengucapkan istifar di dalam diriku, sama halnya, aku menyadari
bahwa apa yang aku lihat, bagaikan cermin yang mengarah ke diriku, bahwa
ada sebagian mahluk itu yang ada di dalam diriku. Kesadaran diri, tahu
diri. Walaupun untuk keserakahan masih jauh dari dalam diriku. Tetapi
nafsu dan segala hal sifat yang tidak baik, tentu saja aku ada,
manusiawi, aku bukan dewa.
Satu persatu aku balikkan, bagian demi bagian aku lakukan dengan hal
yang sama. Melewati sekat-sekat negeri, batas demi batas batin agar
jangan ada bagian yang terlewatkan. Semua mahluk terlihat dengan jelas
di bawah paparan cahaya batin negeri, dimana mereka sedang berpesta pora
dalam kesenangan di dengan menghisap dan mengambil bagian milik
rakyat-rakyat negeri. Di negeri munafik ini jangan pernah berharap
keadilan apalagi pemerataan. Semua pemimpin dan pengusaha hidup dalam
topeng-topeng kemunafikan dan keserakahan, jangan bicara nurani apalagi
kebaikan. Semuanya bagaikan omong kosong yang menjadi penghias di bibir
saja.
Ketika sebagian besar bagian ini sudah dibalikkan, aku mulai membuka
lorong-lorong pintu dimensi negeri. Aku mengembalikan mahluk-mahluk yang
bisa dikembalikan ke tempat asalnya. Tetapi itu hanya bisa aku lakukan
bagi yang ukurannya sedang dan kecil, tetapi tidak yang besar. Mereka
masih bertahan di tempatnya, membutuhkan kekuatan lebih, Aku melanjutkan
langkahku, sedikit demi sedikit mulai berkurang gundukan-gundukan yang
terbentuk. Mereka kembali ke tempat asalnya. Setidaknya kali ini aku
telah menemukan cara yang baru, membalikkan keadaan negeri setelah
melakukan perputaran negeri.
Dari dulu aku melihat ada yang bermain terhadap negeri ini, pintu-pintu
masuk terbuka untuk kegelapan dan kemaksiatan, maka yang harus kulakukan
adalah menutup jalan masuknya. Tidak bisa aku salahkan, karena rakyat
negeri ini atas nama ketidakpahamannya, mereka memberi ruang yang
demikian besar untuk tempat tinggal mereka. Aku bisa sangat mengerti
karena mereka benar-benar buta mengenai hal ini.
Teringat hal terakhir yang aku tahu, adalah bagaimana melepaskan
himpitan dan lilitan mahluk-mahluk itu. bagaikan kain yang dililitkan ke
tubuh, bagaikan tali yang harus dilakukan adalah melakukan pemutaran
dengan arah sebaliknya, sehingga lilitan itu akan lepas dengan
sendirinya. Melakukan hal terbalik dengan yang mereka lakukan, dan
inilah makna dari spiritual negeri.
saat mereka memutar ke arah putaran jarum jam untuk melilitkan tubuhnya,
maka aku akan membuat putaran terbalik dari arah putaran jarum jam
dengan angin dan benda-benda yang selalu tersedia di jagad batin, dan
akan menutup pintu masuk buat mereka, tetapi putaran ini sekaligus akan
mengeluarkan mereka yang ada di dalam negeri ini. Betapa takjubnya aku
melihat semua ini. Rasanya aku sendiri tidak percaya dengan apa yang
baru saja aku lakukan, ketika semua piranti sudah terpasang, aku bisa
melihat pemandangan yang luar biasa, mahluk dari luar tidak bisa masuk
ke negeri nusantara, tetapi yang dari dalam keluar dari negeri ini.
Mahluk-mahluk besar mulai terganggu keberadaannya, karena
tarikan-tarikan kekuatan putaran yang tidak besar tapi sangat konstan
membuat mereka mau tidak mau bergerak dari posisinya.
Seperti biasa, jika ada perubahan keadaan negeri maka kita akan bisa
melihat bencana-bencana alam yang menyertai perubahan negeri. Sebuah
pertanda dan sebuah sasmito.
Aku menundukkan kepala, melantunkan sebuah niat dan doa, "Kusedekahkan
semua yang kulakukan ini untuk negeri ini, kepada seluruh penghuni
negeri dan seluruh semesta yang menaunginya, Bismillah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar