Jumat, 10 Agustus 2012

Bali dan Spiritualitas Pariwisata


Berkunjung ke Pulau Dewata rasanya tak pernah bosan. Jika kita amati alam yang ada di Bali sebenarnya tidak beda jauh dengan alam yang ada di bagian lain di bumi pertiwi ini. Pulau Bali laksana surga.
Dalam kunjungan kali ini saya mengamati aspek sosiologi dan budaya yang menjadikan Pulau Bali menjadi tempat yang menarik. Kenapa bukan di Pulau Sumatera, atau di kota Malang Jawa Timur, atau di gugusan pantai Anyer yang tak kalah bagusnya. 

Kunjungan dadakan ini menjadi istimewa buat saya karena beberapa fasilitas dari beberapa orang yang belum pernah  saya temui secara langsung tapi memberikan saya fasilitas dan kemudahan selama di sana.
Jika diperhatikan sekeliling, hampir di setiap sudut   yang menjadi tempat tinggal diberi candi atau patung yang dilengkapi dengan sesaji secara teratur. Pura-pura tersebar di berbagai tempat secara merata. Warga Bali masih menganut kepercayaan bahwa dalam doa dan sesaji yang dipersembahkan kepada para Dewa akan menjaga kehidupan mereka. Mereka harus bersikap adil antara beribadah kepada sesama manusia dan kepada Para Dewa. Keseimbangan hidup antara kehidupan vertikal dan horisontal. 

Bentuk keseimbangan ini dimanifestasikan dengan menghargai hak orang lain, menghargai tamu, memberikan bantuan dengan tulus dan iklas tanpa pamrih. Hal ini  menjadikan pendatang merasa dihargai dan merasa nyaman. Kepercayaan akan  hukum karma, siapa yang berbuat tidak baik akan menuai hasilnya, demikian juga apabila manusia menanam kebaikan maka mereka akan menuai hasilnya. Kepercyaan ini   membuat kehidupan di Bali bagi pendatang  merasa nyaman. Bukan lagi masalah dosa dan pahala, tetapi penerapan ajaran hidup secara nyata.  

Manusia hidup di dunia berdampingan secara langsung dengan mahluk lain. Ada yang menyebut mahluk ghaib, ada yang menyebut mahluk halus, ada juga yang menyebut para dewa.  apapun sebutannya maka mereka memang ada. Sama seperti halnya mahluk hidup yang ada dunia, ada berupa-rupa binatang dan berupa-rupa manusia. Begitu juga mereka. Beraneka ragam bentuk dan tingkatan yang lebih kompleks. Mulai dari jin, siluman, ular, macan, banas pati, leak, arwah, roh dan lain sebagainya. 

Apa harus diingkari ketika sebagian orang mengatakannya dan sebagian lain tidak kemudian kita bilang tidak ada. Di dalam kitab sendiri mahluk ini disebutkan memang ada. Perkara ada yang bisa melihat dan yang tidak bisa melihat itu menjadi beda perkara.  Setiap orang punya hak untuk percaya atau tidak. Tetapi pengingkaran bukan berarti menghilangkan mahluk itu.

Jika diperhatikan lebih lanjut, biasanya tempat ibadah terletak di suatu tempat dengan kriteria tertentu. Di Jawa biasanya disebut dengan tempat yang wingit atau angker. Tempat yang berada pada ketinggian tertentu, di mata air, di pinggir pantai. Dengan keyakinan itu mereka secara langsung telah menjaga kelestarian alam dengan kearifan budaya lokal. Alam tetap terjaga dan sebagai imbal baliknya alam memberikan lebih dengan kedatangan turis domestik dan luar negeri tanpa harus diundang. 

Demikianlah rumusan alam yang ada, hukum alam, filosofis kehidupan. Dengan menjaga alam tempat kita berpijak sama saja kita menjaga kehidupan kita sendiri. Alam adalah bagian dari kehidupan. Merusaknya berarti merusak hidup kita sendiri. 

Jika kita menginginkn Indonesia seluruhnya seperti Bali bukan pada keyakinan dan kepercayaan yang harus dibenahi atau semua menjadi seperti Bali, tetapi pembentukan karakter manusianya dalam menjaga alam dan keseimbangan kehidupannya. 
Semua adalah pilihan, tinggal bagaimana kita memilih untuk tetap menjaga atau merusaknya. Untuk diri kita sendiri dan untuk seluruh anak cucu kita. 
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar