Berkunjung ke Pulau Dewata
rasanya tak pernah bosan. Jika kita amati alam yang ada di Bali sebenarnya
tidak beda jauh dengan alam yang ada di bagian lain di bumi pertiwi ini. Pulau
Bali laksana surga.
Dalam kunjungan kali ini saya mengamati
aspek sosiologi dan budaya yang menjadikan Pulau Bali menjadi tempat yang
menarik. Kenapa bukan di Pulau Sumatera, atau di kota Malang Jawa Timur, atau
di gugusan pantai Anyer yang tak kalah bagusnya.
Kunjungan dadakan ini menjadi istimewa
buat saya karena beberapa fasilitas dari beberapa orang yang belum pernah saya temui secara langsung tapi memberikan
saya fasilitas dan kemudahan selama di sana.
Jika diperhatikan sekeliling, hampir
di setiap sudut yang menjadi tempat
tinggal diberi candi atau patung yang dilengkapi dengan sesaji secara teratur.
Pura-pura tersebar di berbagai tempat secara merata. Warga Bali masih menganut
kepercayaan bahwa dalam doa dan sesaji yang dipersembahkan kepada para Dewa akan
menjaga kehidupan mereka. Mereka harus bersikap adil antara beribadah kepada
sesama manusia dan kepada Para Dewa. Keseimbangan hidup antara kehidupan
vertikal dan horisontal.
Bentuk keseimbangan ini dimanifestasikan
dengan menghargai hak orang lain, menghargai tamu, memberikan bantuan dengan
tulus dan iklas tanpa pamrih. Hal ini menjadikan pendatang merasa dihargai dan merasa
nyaman. Kepercayaan akan hukum karma,
siapa yang berbuat tidak baik akan menuai hasilnya, demikian juga apabila
manusia menanam kebaikan maka mereka akan menuai hasilnya. Kepercyaan ini membuat
kehidupan di Bali bagi pendatang merasa
nyaman. Bukan lagi masalah dosa dan pahala, tetapi penerapan ajaran hidup
secara nyata.
Manusia hidup di dunia
berdampingan secara langsung dengan mahluk lain. Ada yang menyebut mahluk ghaib,
ada yang menyebut mahluk halus, ada juga yang menyebut para dewa. apapun sebutannya maka mereka memang ada.
Sama seperti halnya mahluk hidup yang ada dunia, ada berupa-rupa binatang dan
berupa-rupa manusia. Begitu juga mereka. Beraneka ragam bentuk dan tingkatan
yang lebih kompleks. Mulai dari jin, siluman, ular, macan, banas pati, leak,
arwah, roh dan lain sebagainya.
Apa harus diingkari ketika
sebagian orang mengatakannya dan sebagian lain tidak kemudian kita bilang tidak
ada. Di dalam kitab sendiri mahluk ini disebutkan memang ada. Perkara ada yang
bisa melihat dan yang tidak bisa melihat itu menjadi beda perkara. Setiap orang punya hak untuk percaya atau
tidak. Tetapi pengingkaran bukan berarti menghilangkan mahluk itu.
Jika diperhatikan lebih lanjut, biasanya
tempat ibadah terletak di suatu tempat dengan kriteria tertentu. Di Jawa
biasanya disebut dengan tempat yang wingit atau angker. Tempat yang berada pada
ketinggian tertentu, di mata air, di pinggir pantai. Dengan keyakinan itu
mereka secara langsung telah menjaga kelestarian alam dengan kearifan budaya
lokal. Alam tetap terjaga dan sebagai imbal baliknya alam memberikan lebih
dengan kedatangan turis domestik dan luar negeri tanpa harus diundang.
Demikianlah rumusan alam yang
ada, hukum alam, filosofis kehidupan. Dengan menjaga alam tempat kita berpijak
sama saja kita menjaga kehidupan kita sendiri. Alam adalah bagian dari
kehidupan. Merusaknya berarti merusak hidup kita sendiri.
Jika kita menginginkn Indonesia seluruhnya seperti Bali bukan pada keyakinan dan kepercayaan yang harus dibenahi atau semua menjadi seperti Bali, tetapi pembentukan karakter manusianya dalam menjaga alam dan keseimbangan kehidupannya.
Semua adalah pilihan, tinggal
bagaimana kita memilih untuk tetap menjaga atau merusaknya. Untuk diri kita
sendiri dan untuk seluruh anak cucu kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar