Wahyu Keprabon adalah wahyu yang diberikan kepada calon pemimpin. Kategori pemimpin bisa terdiri dari berbagai macam tingkatan sesuai dengan wilayah wewenang dan tanggung jawabnya. Tingkatan pemimpin bisa dimulai dari RT, RW, Dukuh, Lurah, Camat, Bupati, gubernur dan yang tertinggi di negeri ini adalah jabatan Presiden. Wahyu ini dapat diperoleh dengan cara laku sendiri maupun diberikan oleh pendamping spiritual.
Wahyu keprabon jika dilihat secara spiritual berupa sinar atau cahaya yang akan melingkupi manusia yang berhak atasnya. Bahasa yang umum dipakai adalah aura. Wahyu keprabon yang diperoleh sendiri, usaha sendiri dengan proses laku akan bersifat abadi dan awet. Aura ini melekat kepada diri bersifat paten kecuali si pelaku melakukan tindakan negatif terus menerus. Wahyu ini bisa luntur dan tidak bersifat permanen bahkan bisa hilang jika si manusia ini melanggar syarat dan ketentuan yang mengikuti. Misalnya merusak pager ayu atau melakukan perbuatan yang ngiwo, atau perbuatan-perbuatan yang melangar norma.
Beda lagi jika seseorang memperoleh wahyu keprabon dari pendamping spiritual. Wahyu ini bersifat instan dan tidak permanent. Tergantung tinggi rendahnya ilmu pendamping spiritual. Bagi orang yang berniat menjadi pemimpin tidak perlu melakukan laku prehaten sendiri, biasa dikenal dengan dol tinuku, pitukon, serah terima. Wahyu ini yang sering diperjualbelikan oleh para pelaku spiritual. Kelemahan wahyu ini adalah jika pendamping spiritualnya meninggal maka wahyu keprabonnya ikut terbawa ke alam kubur, karena hak paten ada pada si pendamping spiritual dan bukan kepada yang menerima. Biasanya kalau kasus begini si pelaku akan mengalami banyak masalah yang menerpa dan agak kesulitan mengatasinya karena pada dasarnya pondasi spiritualnya menjadi tidak ada.
Pilihan wahyu keprabon jenis mana yang pas disesuaikan dengan keadaan dan kondisi masing-masing. Instan bersifat tidak permanen, bisa expired, harus beberapa kali di charge, tapi mudah diperoleh. demikian juga sebaliknya, walaupun lebih susah, membutuhkan kekuatan niat dan kekuatan fisik untuk puasa, melek tetapi wahyu keprabon yang tidak instan lebih diminati.
Wahyu keprabon terlihat berupa cahaya. Cahaya ini menjadi seperti puzzle. Bagi pelaku spiritual wahyu keprabon instan bisa dipindah-pindah, tinggal dipindah-pindah kemana hendak diberikan apabila syarat dan ketentuan penerimanya memenuhi. Perlu diperhatikan kekuatan dan kesanggupan penerima, tidak asal kasih saja, karena pemberian dengan pemaksaan (tanpa memperhatikan kesanggupan) sama saja membawa angkara murka pada pemimpin yang tidak benar.Memberikan kekuasaan kepada yang tidak layak menjadi pemimpin sama saja membawa masyarakat kepada kehancuran.
Jika sekarang ini para peminat tampuk kepresidenan secara nyata sedang bergerilya untuk mendapatkan kursi jabatan sebagai RI -1 maka dalam dunia spiritual terlihat bahwa wahyu keprabon yang sebenarnya sedang disimpan, menunggu orang yang tepat, yang terbaik untuk rakyat banyak. Wahyu Keprabon bisa jatuh kepada orang-orang yang secara bibit, bebet, dan bobotnya mampu menampungnya. Wahyu keprabon tidak bisa dipaksakan jatuh kepada orang-orang yang tidak mempunyai syarat-syarat mutlak secara spiritual. Abot songgone.
Yang pertama mencalonkan saat ini adalah Aburizal Bakrie. Secara spiritual beliau ini tidak mempunyai bibit yang dapat menampung di dalam diri. Sehingga kemungkinan untuk kebagian jatah wahyu keprabon bisa dibilang tidak mungkin.
Yang kedua adalah Prabowo Subianto. Beliau ini memenuhi syarat, baik secara bibit, bebet, dan bobotnya untuk menerima wahyu keprabon. Sebenarnya secara cahaya tanda-tanda ini pernah terlihat, tetapi dalam kurun waktu terakhir ini menjadi surut. Secara spiritual yang memberatkan jatuhnya wahyu keprabon kepada Prabowo adalah karma pribadi atau kesalahan dan tindakan yang pernah dilakukan pada masa lalunya. Ada beberapa syarat yang harus dilewati untuk menebusnya, dengan keyakinan Tuhan adalah Maha Pengampun dan Maha Memberi.
Yang ketiga adalah Megawati Sukarnoputri. Apabila dilihat dari sisi bibit dan bebetnya beliau ini memenuhi syarat mutlak, karena merupakan penerus generasi dari proklamator RI, Ir. Sukarno. Tetapi secara bobot beliau ini masih harus ditambahi lagi. Megawati mempunyai jatah untuk duduk di tampuk RI-1 tetapi karena ada kekuatan spiritual yang lebih kuat sehingga Megawati tidak bisa berada di RI-1, pernah menjadi presiden karena peralihan, atau karena sesuatu hal yang luar biasa.
Yang keempat adalah Anas Urbaningrum. Ketua Umum Partai Demokrat ini pernah beberapa waktu yang lalu mempunyai aura Wahyu Keprabon, dan sempat bersinar cukup cerah. Tetapi sepertinya bintang muda yang bersinar ini seperti dicoba dipaksa dipadamkan. Bercahaya terlalu cepat dengan visi yang berbeda dari kelompoknya. Orang yang tidak mudah didikte, tidak mudah diatur. Tetapi mempunyai langkah yang cepat. Sayang sinar itu sekarang tidak terlihat lagi.
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden adalah pemilihan secara pasangan. Dalam hal ini keduanya bisa saling mengangkat atau saling menjatuhkan. Apabila merasa dirinya tidak mempunyai wahyu keprabon maka bisa disiasati dengan mencari pendamping yang mempunyai kekuatan wahyu, sehingga bisa diangkat secara spiritual.
Masih ada beberapa nama yaitu Jusuf Kalla dan Mahfud MD belum terlihat secara detil. Di lain waktu bisa ditambahkan lagi.
Sedang untuk Ibas, ataupun Puan Maharani sejauh ini belum terlihat tanda-tanda wahyu keprabon. Genderang perang pemilihan presiden belum ditabuh, para calon masih menguatkan diri. Tetapi perubahan jalan bangsa ini akan terus melaju seiring dengan putaran jaman, wolak-waliking jaman cakra manggilingan yang terus merubah arah perjalanan negeri ini. Tanpa peduli siapapun yang nanti akan menjadi pemimpin negeri ini. Permadani hitam terus bekerja, memilah dan menyaring siapa yang pantas untuk berada di palenggahan agung. Yang cita-citanya ternoda oleh ambisi dan keinginan pribadi bersiaplah masuk jaring perangkap dan terhempas. Salah satu cara menembus jaring permadani ini hanyalah seseorang yang mempunyai niat tulus untuk menjadi pemimpin yang memenuhi hasrat dan keinginan rakyatnya. Seseorang yang sudah genep dan jangkep.
Sistem alam semesta terus bekerja, sesuai dengan putarannya. Berhati-hatilah. Karena negeri ini sedang fase perubahan dasyat menuju kejayaannya.
Siapapun yang tidak mengikuti arahnya akan terlindas oleh putaran jaman, terlindas oleh putaran perubahan. arah perubahan adalah kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa ini, budaya sendiri, berdiri di kaki sendiri. Hingga akhirnya nanti negara ini akan menajdi seperti yang diharapkan para sesepuh pendiri nusantara ini.
Jadi kemanakah angin berhembus tentang presiden Republik Indonesia terkait dengan wahyu keprabon atau secara spiritual, maka masih harus ditunggu. Semua harus satu jalan, selaras antara lahir dan bathin, tidak bisa sepihak saja, dan kembali kepada Penentu Kehidupan, Sang Takdir. Mari kita tunggu saja.
Alamat nya Malang mana mbah ? tolong kirim ke email saya Questbird@yahoo.com
BalasHapusPrisiden RI nanti mempunyai wahyu keprabon ratu adil yg sangat dinanti dari generasi ke generasi.
BalasHapusRatu adil adalah pendamping orang yang menerima wahyu keprabon
BalasHapuswahyu keprabon ini masih diperebutkan oleh
BalasHapus(1) Orang yang diuntung oleh pencitraan positif dari media informasi, baik elektronik, media massa, internet dan lainnya
(2)Orang yang mempunyai dukungan dari partai politik
(3)Orang yang belum tercemar, tercoreng nama baiknya
(4)Orang yang mau memperjuangkan wahyu keprabon agar menjadi miliknya
Saat ini wahyu keprabon sedang tenggelam di dasar samudera pasifik, hanya orang pelaut yang sanggup mendapatkannya
Pak Sururudin
HapusSetiap orang punya versi yang berbeda-beda tentang wahyu keprabon. Sama halnya bicara pohon beringin tetapi belum pernah melihat pohonnya, sehingga setiap orang menganggap pohon itu pohon beringin, padahal belum tentu.
tidak pernah ada kepastian mutlak di dalam jagad spiritual
tetapi kebenaran selalu sama di dimensi manapun
kita tunggu saja kemana wahyu keprabon akan singgah. (sambil mikir, saya kasih ke siapa ya.. )