Kamis, 10 November 2016

makanan hanyalah sebuah alat untuk melakukan perpindahan kehidupan

Ki Haryo Mukti


Kamu sudah melewati banyak hal dengan segala warnanya
banyak yang sudah kau lakukan
hal yang mudah sampai hal yang sulit
belajar hal-hal baru
belajar hal-hal yang di luar nalar
dengan guru yang berbeda-beda
dengan segala hal yang siap untuk dipandu
pemandunya ada
jelas
kadang-kadang kehidupanmu
perjalananmu sendiri yang memandumu

(Baru kali ini aku bisa melihat Ki Haryo dengan sangat jelas, wajah yang sangat bersih. Kulit kuning bersemu putih, entah atau putih bersemu kuning. kulitnya bersinar terpendar-pendar, berkilat dengan kilat yang sama dengan warna kulitnya, kadang kuning, kadang putih terang, bahkan kadang-kadang jika dua warna itu bertemu sekilas tertangkap percikan warna pelangi sekejap, benar-benar memukau. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tetapi memadang wajahnya membuat berbagai macam perasaan kepada si pemandangnya. Tergantung situasi kita. Jika kita sedang memandang seorang pemimpin, maka akan tersirat kharisma dan wibawa yang lahir dari sikap hidup yang bermartabat. Jika kita sedang sedih, yang tertangkap adalah wajah penuh rasa mengayomi, menentramkan, menyejukkan dan lembut. Tetapi saat kita sedang sembrono, maka akan tertangkap pancaran ketegasan tanpa kemarahan, sebuah sikap yang tidak bisa ditoleransi.

Aku menatap lagi, mencoba membuat datar hatiku, mengosongkan untuk memahaminya. Padahal jika diperhatikan sekilas wajah Ki Haryo sangat datar, tetapi aku melihat sorot matanya yang berubah-ubah sinarnya. Sorot mata yang merupakan cerminan pikirannya, bukan wajahnya. Aku baru memahami bahwa wajah adalah cerminan rasa, emosi. Sedang mata adalah cerminan pikiran, ternyata aura wajah dan mata adalah dua hal yang berbeda, yang tidak bisa disamakan. Aku mendapatkan pelajaran baru.

Seharusnya kamu mengukur dirimu, anakku
seberapa besar ukuran perutmu, seharusnya hanya seukuran kepalan tanganmu, itu seharusnya yang paling besar
maka ukurlah makanan yang masuk ke perutmu
jika sudah terlanjur besar, ikatlah agar mengecil kembali
agar tetap bisa seperti semula

tidaklah boleh perutmu lebih besar daripada ukuran hati dan jantungmu
karena ukuran perut adalah lambang besarnya nafsumu, nafsu mulutmu

lihatlah mulutmu, apakah lebih besar dari ukuran tanganmu,
maka dari mulut yang sekecil itu seharusnya engkau bisa mengukur seberapa besar yang bisa kau masukkan

nafsu bagaikan sebuah lorong panjang, lentur tak berujung, jika kamu turuti dia akan semakin membesar dan membesar, tak akan ada habisnya
nafsu itu yang akan membunuhmu
nafsu itu yang akan menghancurkanmu
nafsu itu yang akan membawamu kepada kegelapan

maka yang harus kau lakukan adalah membatasinya
jika itu panjang maka kau pendekkan
jika itu lentur maka kau kakukan
jangan dituruti
jangan diikuti
karena mengikutinya
sama saja engkau mengikuti setan
tanpa akhir,  tanpa batas
tanpa ujung, tanpa ukuran

jika kamu mau memahami
nafsu itu besarnya adalah sama dengan besarnya dunia yang kau lihat dengan mata
maka besarnya nafsu adalah sama besarnya dengan dunia yang tak kau lihat dengan mata
artinya sangat besar
pahamilah anakku

jika kamu melihat dunia nyata dengan matamu, dengan keinginanmu, semua ingin kau miliki
semua ingin kau raih

demikian juga dengan nafsumu
nafsu bathin demikian juga
tidak pernah ada habisnya

engkau harus memahami dua hal itu dengan sama baiknya
pengendalian diri
pemahaman diri
dan kamu harus bisa memaksa dirimu untuk bisa melakukannya

anakku
(Ki Haryo melihat ke diriku utuh, dari atas sampai ke bawah. terlihat sorot mata prehaten. Sekilas, aku menangkap perasaan asih kepadaku, sebagai anak para sesepuh, sebagai harapan dan sebagai tumpuan kasih sayang. sangat sedikit , tapi aku menangkapnya. Terbersit rasa haru di hatiku. Iya, apapun, bagaimanapun kondisinya, sesepuh ini sangat mengasihiku. Dengan berbagai cara, dengan berbagai warna mereka menumpahkannya kepadaku dengan caranya masing-masing. Harapan mereka kepadaku tetap tidak dapat ditutupi, semua tercurah dari cara mereka membimbingku, menggembleng dengan segala laku dan pemahaman)

Aku tahu, semua yang kau jalani ini tidak mudah
tapi aku juga tahu, mengundurkan diri dari gelanggang bukanlah jalan keluar dari semua kesulitan ini
berhenti belajar juga bukan cara yang pas untuk menghadapi semua ini

Kita tidak punya pilihan, nduk
kita harus maju dan menang
kita harus berangkat dan berperang
kita harus bisa dan tetap di depan

atau kita akan mati dan hancur
pahamlah
kemunduranmu berarti kehancuran kita semua, kehancuran negeri ini
jangan sampai ada skenario cerita edyan berikutnya yang ra nggenah-nggenah untuk kamu
mereka itu cupet pikirnya
mereka itu sebenarnya sudah putus asa dengan semua yang sudah terjadi

kehancuran ini di depan mata
tapi seharusnya kamu masih bisa mengejarnya
seharusnya kamu masih bisa menjaganya

yang dibutuhkan adalah kekuatanmu
kemampuanmu
niatmu
dan ketahananmu untuk selalu bertahan walau apapun yang terjadi

tanpa jeda
tanpa henti
stabil
dan tetap kuat

(Aku menunduk, mengingat kondisiku hari ini. Luka-luka bekas perang masih jelas terlihat, masih basah berdarah. Kadang-kadang masih perih, ngilu mendera. Tapi aku berusaha meredamnya. Biar bagaimanapun melihat kedataran wajah Ki Haryo adalah sebuah kekuatan baru untukku. Cengkeram tangan Ki Haryo dilenganku adalah aliran kekuatan yang meredakan semua sesak dadaku karena menahan pilu, di sakitku dan di rasaku)

Aku memahaminya
aku mengerti
segala sakit yang kau alami
segala luka
segala tangis
dan tentu saja segala lara dan sepi yang mendera

tapi kamu juga harus mengerti anakku
bahwa jika kamu berhenti sampai di sini
jika kamu mengambil langkah untuk beristirahat semuanya akan hancur
semuanya akan berakhir, cerita tentang negeri ini

aku tahu ini tidak mudah
aku tahu semua ini benar-benar bagaikan buah simalakama

tapi anakku
kamu tidak punya pilihan lain
kamu harus berangkat berperang, apapun keadaanmu

Kami semua sudah melewati bagianmu ini, nduk
kami semua melewatinya
tetapi bagianmu adalah yang paling berat yang harus dilewati
bagianmu adalah bagian pembuka gerbang perjalanan berikutnya

semua menjadi tidak mudah
karena keadaanmu yang bukan siapa-siapa
tidak mudah karena kamu hidup di jaman di mana kawruh roso sudah ditinggalkan dan kamu harus belajar sendiri
lebih sulit lagi karena tidak ada yang bisa memahaminya
kesendirianmu juga bagian hal yang membuat semua ini tidak seimbang

walaupun dalam banyak hal keadaanmu yang berbeda inilah yang membuat kamu sekuat ini
tanpa tanggungan besar sebagai raja, sebagai adipati
tanpa orang melihatmu dalam kapasitas yang sangat tersembunyi membuat kamu bebas melakukan apa saja

apapun anakku
kami semua para sesepuh memahami situasi dan keadaanmu

(semakin aku rasakan, bahwa Ki Haryo tetap saja seperti sesepuh lainnya, ada rasa kasih sayang yang tercurah dan tertumpah yang tak terhingga. tetapi Ki Haryo adalah seorang yang sangat tegar, seorang yang sangat kukuh. Ingin membuat aku mampu melewati semua ini dengan baik)

Kabeh kuwi ono ukurane
cilikno ukuran wetengmu
mengko kowe dadi ngerti luweh cetho ukuran weteng akro pikire liyan
tambah padhang pikir lan rosomu
kabeh kuwi kethok oran ono tedheng aling-aling
ora ono watese

ben jangkahmu ora ono watese, maka kamu harus bisa membatasi makanmu
karena ukuran lambung dan usus yang besar akan menjadi beban langkahmu
karena apa yang kamu makan hanya akan menjadi sampah di dalam dirimu
masih mending menjadi sampah
mereka akan hidup dan mengambil tempat di dalam badanmu
menjadi penghuni baru

ingat hukum kekekalan energi
makanan hanyalah sebuah alat untuk melakukan perpindahan kehidupan
sebuah transformasi
dari tanah dan kembali ke tanah berwujud makanan
mahluk hidup hanyalah sebuah alat transformasi
tolong di pahami

dan anakku
kamu harus memahaminya dengan baik semua kejadian ini
kamu harus bisa melihat semuanya dengan jeli
supaya kamu memahami apa yang sebaiknya boleh kamu makan dan yang tidak boleh
membatasi jumlahnya

ingatlah bukan kamu yang ingin makan
tapi mereka yang ingin tinggal di dalam dirimu, maka jadilah kamu ingin makan
tolong kamu pikirkan hal itu
semua itu berbeda dari yang ada
ingatlah nduk
keadaamu saat ini sudah berbeda dari yang lainnya
semua mahluk berebut ingin menguasaimu
semau mahluk berebut ingin tinggal di dalam dirimu

kamu adalah tempat yang sempurna untuk tinggal
pahamilah itu anakku
pahamilah semua yang ada

langkah kakimu masih sangat akan panjang
masih banyak yang akan kau hadapi
dan berikutnya ini adalah langkah yang tidak mudah

karena kamu harus mampu membenturkan satu dengan yang lainnya
mampu membuat perang-perang kecil
mampu menghadirkan amarah dan kebencian

anakku
ingat jagalah mulutmu
jagalah dirimu
bentengilah dirimu dengan hal-hal yang sudah seharusnya mulai kamu lakukan dengan lebih tegas lagi

jika kamu mampu melewati semua ini
maka kamu akan memahami bahwa segalanya jelas akan lebih baik
tahapanmu bukan hanya bertambah tapi meloncat.

Konstelasi Pilkada DKI dalam Pandangan Mata Spiritual

Pilkada adalah ajang pertarungan, pertarungan untuk sebuah kemenangan. Banyak yang dipertarungkan, mulai dari penampilan, gagasan, ide, figur, massa, trik, cara  atau bahkan ada yang pura-pura menjual idealisme untuk sebuah kemenangan. Pertarungan yang banyak melahirkan pelacur-pelacur, pelacur proyek, pelacur makelar, pelacur idealisme, pelacur politik, pelacur kekuasaan. 

Menjual dirinya sendiri untuk sebuah kemenangam demi kekuasaan. Kekuasaan yang begitu menggiurkan, memabukkan dan mampu membutakan mata hati orang-orang yang menginginkannya. Hingga mereka mampu melakukan apapun, menghalalkan segala cara untuk memenangkannya. Semua dijual, bahkan rela menjual harga dirinya hanya untuk sebuah kursi kekuasaan yang tidak akan dibawanya mati. Yang tidak akan memberikan amal kebaikan jika disalahgunakan, akhirnya kekuasaan bukan lagi amanah, tapi menjadi penjahat.

Ketika jagad lahir mulai bergemuruh, pertanda dunia pergerakan  politik sudah mulai panas, mesin-mesin mulai bekerja untuk menentukan tokoh, untuk mencari figur, pertaruhan-pertaruhan telah dimulai. Calon-calon pemimpin sudah mulai bergeliat melihat dan menjajaki arah perkembangan, maka demikian juga yang terjadi di jagad bathin. Jagad bathin  mulai bergolak, saat ada pertaruhan, maka  dunia bathin  bergerak dengan arah yang sama. Pilkada DKI melibatkan banyak figur, melibatkan banyak uang, pertanda sebuah eksistensi kekuasaan yang sangat besar, maka selain menarik bagi manusia, peristiwa ini  juga menarik bagi mahluk penghuni bathin. 

Banyak manusia yang meminta pertolongan secara spiritual, secara mistis, walaupun lebih banyak yang dilakukan secara diam-diam, karena takut dibilang musrik atau mistis, tetapi demikianlah faktanya yang terjadi. Bibir boleh saja berkata tidak, tetapi faktanya, dunia bathin bergolak dan mulai banyak mahluk-mahluk beriring-iringan, mulai bekerja untuk memenangkan salah satu pihak. Pertanda sudah mulai ada permintaan dari kelompok-kelompok tertentu  untuk bekerja memenangkan kelompoknya masing-masing.

Pergerakan mistis bukan hanya dari kedua belah pihak saja. Namanya dunia bathin bukanlah dunia manusia, ada hal-hal yang tidak bisa dipahami dan itu adalah hal yang biasa terjadi di dunia itu, sesuatu hal yang sangat sulit terjadi di dunia manusia. Banyak mahluk yang berkumpul, dari berbagai macam jenisnya. mereka semua ikut nimbrung, awalnya yang hanya menjadi penonton, kemudian terjun ke arena sekedar iseng ikut-ikutan memihak atas nama biar pertarungan bisa berlangsung lebih seru. Terlihat juga manusia, sebagai pelaku spiritual menggunakan ajang pilkada DKI sebagai ajang latihan untuk menempa dirinya, ajang latihan. Hahaha, di dunia bathin ini iseng dan latihan, padahal mereka tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya di dunia nyata, di dunia kehidupan manusia. 

Semua kekuatan bathin seakan tumpah ruah di jantung ibukota negeri ini, seakan-akan pusat perhatian hanya ditujukan ke sini. Hal ini bisa diyakini, saat semua senior penguasa negeri ini ada di belakang layar pilkada DKI. Bukan itu saja, artinya segenap pendukung bathin mereka juga otomatis akan ikut bergerak menjadi pesertanya, perang tanding kekuatan bathin, menurunkan semua pasukan-pasukan yang dimilikinya. Kemenangan Jakarta adalah sebuah harga diri, sebuah kemenangan eksistensi.
Kisah yang menarik adalah saat peperangan bathin dimulai, saat pasukan-pasukan komando para calon digerakkan, semua bergerak mengambil posisi masing-masing. Ada yang memang berasal dari pasangan-pasangan calon, ada penonton, tetapi di dalamnya ternyata banyak penumpang gelap yang ikut hadir di sana. Sayangnya, kali ini pelaku yang sesungguhnya justru kalah kuat dari penimbrungnya. Memang kali ini penonton dan mereka yang hanya sekedar latihan ini mempunyai watak ora nggenah, namanya juga hanya iseng tanpa kepentingan akhirnya pilkada DKI justru menjadi ajang permainan dengan kekisruhan di sana-sini.  Pendatang justru lebih kuat dari yang didatangi, akhirnya pengendali justru datang dari mereka yang tidak punya kepentingan.

Yang muncul di arena ini, sebagian besar adalah pemain-pemain lama, sebagai pendukung kekuatan. Kelompok dari Banten dengan kekuatan wirid dan pasukan silumannya. Kekuatan dari Jawa Timur dengan seorang kakek berkulit hitam legam dengan kekuatan cerahnya matahari, hadirnya drubikso dari Jawa Timur, dan sebagian adalah kekuatan dari Jawa Tengah dan sekitarnya. terlihat juga kedatangan sebuah mahluk dari pulau bagian barat dan sebagian pulau bagian timur negeri ini. Sedang mereka para mahluk merdeka tanpa tuan justru datang dengan kekuatan yang lebih besar daripada mahluk yang bertuan. Mahluk baru berwarna merah, seperti kaki seribu dengan besar seukuran pulau Jawa. 

Tubuhnya dibalut rambut berwarna merah, dengan bola-bola kecil di ujung rambutnya yang sekaligus berfungsi sebagai kakinya. Bola lentur yang bisa bergerak dan melenting dengan sangat cepat. sesekali dari tubuhnya keluar kilatan api yang berasal dari cahaya bulu-bulunya. Setiap gerakan dan gulingannya membuat suasana semakin meriah. Ketika ada mahluk lain yang menyerang, sebagian rambutnya keluar dari tubuhnya dan berubah menjadi sangat keras dan panas, laksana paku yang siap menghantam musuhnya. Pemandangan yang luar biasa.  

Beragam mahluk beterbaran, masing-masing jenis dan warnanya. Dari berbagai macam naga dan ular, berbagai macam burung dan buaya, bahkan lintah-lintah dengan segala modelnya. Tampak mereka bertebaran di darat dan di udara. Jagad bathin yang tanpa batas ruang dan waktu membuat semua bergerak dengan serunya. Terlihat sebuah mahluk seperti ikan pari yang sekali-kali terbang menyambar segala sesuatu yang ada di hadapannya. Ada juga buaya hitam dengan garis kuning kekemasan di bagian lehernya, buaya Ciliwung yang sedang bertapapun akhirnya keluar dari persembunyiannya mengikuti ajang lima tahunan, pesta spiritual.

Sesekali terlihat ekornya bergerak naik turun mengepak dan menyamplak mahluk-mahluk yang ada di sekitarnya. setiap gerakan ekornya menimbulkan suara gemuruh dengan diikuti angin puting beliung  yang menghempas. Naga kuning baru posisi bersiap, mereka lebih kalem, bukan jenis mahluk pecicilan bagaikan demit-demit penyenyengan. Posisi bersiaga untuk menunggu serangan, bertahan. 

Semua mahluk ini bercampur menjadi satu dan menempati posisi yang berpindah-pindah. Ibarat bermain jungkat jungkit, mereka suka-suka menempatkan dirinya.  Ketika ada salah satu kandidat yang mulai goyah, mereka menguatkan yang goyah supaya tidak jadi jatuh dan bangkit lagi, begitu seterusnya berulang-ulang. Demikian seterusnya, hingga konstelasi menjadi semakin seru. Bahkan ketika ada salah satu calon yang sudah demikian besar rasa percaya dirinya, baik kemampuan maupun dukungan yang ada di belakangnya, membuat si calon ini menjadi bulan-bulanan keisengan para pendatang. Beramai-ramai mereka berusaha menarik ke bawah agar jatuh, menjadi sebuah ajang tontonan yang sangat menarik di jagad maya. Mendebarkan. Ketika ada yang jatuh dan berhasil dikalahkan, tepuk tangan dan sorak sorai bergemuruh. 
Padahal ini baru sebuah awal, masih pemanasan, belum perang yang sesungguhnya. Masing-masing pihak masih bermain dengan setengah hati, terlihat di setiap wajah masih terdapat senyum-senyum simpul penuh kebahagiaan, bagaikan anak kecil bermain dijernihnya air sungai, bajunya basah dan mereka sangat bergembira. Baru sekedar penjajakan kekuatan masing-masing mahluk, belum ada yang mengeluarkan segenap kekuatannya untuk bertaruh nyawa. Sesuatu yang tertangkap jelas di dunia bathin, sebuah representasi dari dunia nyata adalah bahwa ada yang secara lahiriah sudah mendeklarasikan dukungan, ternyata itu hanya di lakukan di bibir saja.

 Tidak ada pergerakan yang terbaca dari simbol-simbol yang selama ini bergerak, dukungan setengah hati, atas nama pencitraan dan asal bapak senang. Atas nama kepentingan, dol tinuku, akhirnya pertaruhan hanyalah di bibir saja, bukan dukungan dengan hati. Dunia bathin sangatlah jelas dan tidak bisa disamarkan. 

Dunia bathin dan dunia nyata selalu mempunyai jarak, rentang antara peristiwa. Kejadian di dunia bathin akan terjadi beberapa waktu kemudian di dunia nyata. Semuanya harus dipersiapkan, perbedaan perputaran waktu di dua dunia sangatlah berbeda. Saat ini dikerjakan baru akan sampai beberapa waktu kemudian. Dalam ketidakjelasan, tanpa wasit, tanpa pengendali maka semua bergerak semau-maunya. Pertempuran demi pertempuran kecil terjadi, dan akhirnya bisa kita baca bersama di dunia nyata, betapa gejolak pilkada masih terus memanas. Tidak jelas siapa pelaku aslinya, siapa penumpang gelapnya, siapa yang hanya ikut-ikutan. Semua berbaur menjadi satu. 

Dan seperti biasa, dalam sebuah kekisruhan selalu saja ada yang mendompleng, mencari kesempatan menjadi penumpang gelap, kaum opportunis yang selalu mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Banyak yang muncul untuk memanfaatkan momentum politik berharap untuk menjadi pijakan pada kekuasaan berikutnya. Menyusup, bersuara dan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Di publik dia muncul seakan-akan memberi nasehat, menjadi penengah, di balik layar dia memakai strategi untuk membunuh lawan-lawannya yang dianggap akan membahayakan posisinya di kemudian hari. Banyak juga yang sedang mengamati, mencari celah, mencari kesempatan untuk muncul sebagai pahlawan kesiangan. Berlomba-lomba berebut panggung yang sangat luas tersedia. Suara dan polemik bersahut-sahutan di sana-sini. 

Berbeda dengan pilkada DKI sebelumnya ketika ada wasit yang membatasi dengan berbagai macam aturan di dalamnya, membuat para mahluk menggerutu karena ajang pertempuran tidak seru. Kali ini pilkada DKI terjadi tanpa wasit tanpa aturan, dan hahaha terlihat si wasit ikut nimbrung dan ngisruh di dalamnya, karena dia kali ini tidak sedang menjalankan tugas menjaga jagad bathin. Maklumlah, semakin maklum kenapa semuanya menjadi seru dan bergemuruh. Pantas saja, pantas saja.

Tidak bisa kita melihat dari sudut pandang yang sama untuk sesuatu kejadian di dunia yang berbeda, tidak bisa kita memaksakan kehendak seperti lumrahnya yang terjadi di dunia nyata yang normatif. Melihat bagian lain yang berbeda harus menggunakan kacamata yang berbeda supaya tidak salah dalam mengambil sikap. Keriuhan dan kekisruhan pertempuran di dunia bathin, adalah sebuah tontonan yang demikian menarik lengkap dengan segala kelucuan dan keseruannya. Kita sebagai penonton tidak boleh mengatakan bahwa itu tidak pantas dan tidak boleh, karena dunia bathin mempunyai hukum sendiri yang berbeda dengan hukum manusia. 

Memang segala kejadian dunia bathin akan berkaitan langsung dengan dunia nyata, tetapi sekali lagi ini adalah dunia mereka, dan dunia lain di mana hukum berjalan sendiri-sendiri. Negeri ini sedang dalam perputaran perubahan etape kedua, dimana setiap putaran perubahan pasti akan menghendaki korban apapun bentuknya, perputaran adalah sebuah kejadian, kejadian adalah pasti dilengkapi dengan segala suka dan dukanya, pahit getirnya. Menjadi penonton dan bukan pelaku, menjadi pendengar dan bukan eksekutor juga adalah bagian dari takdir kehidupan. 

Masih melihat seluruh kejadian kehidupan di dua dunia yang berbeda. Seandainya ada kementerian dunia sihir layaknya Harry Potter, maka kementerian ini sangat dibutuhkan di negeri ini, agar bisa menjadi wasit dan membawa arah perjalanan putaran negeri menjadi lebih baik. Eh, tapi perputaran tanpa kekisruhan adalah sebuah sayur tanpa garam, dan tontonannya menjadi tidak menarik. Rusak, rusak. Byusuk, byusuk. Bukankah setiap cerita selalu menarik jika ada konfliknya.   Semua sedang berjalan, dan kita harus menunggu kelanjutan cerita ini. 

Minggu, 26 Januari 2014

Wahyu Keprabon





Wahyu keprabon, sesuatu hal besar yang sangat diharapkan. Yang dinantikan. Kekuatan besar yang tek terbendung. Setiap perjalanan, setiap proses, entah berapa kali aku dihadapkan dengan sesuatu yang disebut wahyu keprabon.

Mungkin bukan aku saja, tetapi juga para pelaku spiritual lainnya. Kakiku pendek, langkahku dekat, jangkauanku terbatas, maka mungkin bisa jadi sebenarnya apa yang kupunya masihlah sangat dangkal.

Setiap pemimpin besar  mempunyai jejak spiritual, karena negeri ini negeri nusantara, negeri timur, seorang pemimpin hendaklah genep lahir dan bathin. Artinya seorang pemimpin akan mampu memimpin negeri ini jika dilengkapi dengan kemampuan spiritual, selain kemampuan utama, kemampuan intelektual dan kemampuan kepemimpinan.

Mengertilah aku sekarang, wahyu keprabon, adalah wahyu, yang ternyata adalah kekuatan yang juga bisa terpecah-pecah, tergantung laku yang dijalaninya. Termasuk juga di dalamnya adalah jatah dari Yang Maha Kuasa. Besar kecilnya tergantung jatahnya, tergantung besarnya wadah dirinya, seberapa jauh dia telah memperluas wadah, melatih dirinya. Sebuah proses adalah memperbesar wadah, memberi tempat utk hal yang baru.

Sedang selama ini kekuatan itu hanya sebagian-sebagian, sepotong-sepotong, tidak utuh. Maka kemampuan seorang pemimpin tidak akan mencapai pada tahapan yang diinginkan. Begitu juga dengan diriku, setelah mengikuti proses demi proses, aku malah semakin tidak yakin, mungkinkah yang kulihat hanya sebagian kecil saja.

Perjalanan spiritual BK, Panembahan Senopati, Ki Juru Martani, Tri Buana dan seorang Soeharto. Terpotretkan, tapi apakah sudah mencakup semuanya? Sungguh aku tidak berani menjawabnya.

Yang bisa kulakukan hanya menjalankan semua tugas spiritual negeri, menata satu demi satu, dengan segala kemampuanku. Berharap lahirnya akan mengikuti, dan sejauh ini semuanya telah menunjukkan hasil yang bisa terbaca. Perubahan telah dimulai, satu demi satu kezoliman sudah mulai dihancurkan. Masih banyak, dan masih jauh, tp aku telah memulainya.

Berikutnya aku menjadikan diriku penjuru, menjadikan pusat segala kekuatan. Hingga segala yang baik akan datang padaku, seluruh kekuatan yang pernah tersimpan di negeri ini. Yang telah dibawa pergi ke luar nusantara, hingga yang telah menjadi puing-puing di negeri sendiri. Berharap semuanya menyatu, membuat diriku bagaikan vacum cleaner, menarik, menyedot. Yang kulakukan hanyalah menambah daya tariknya, daya putaran yang semakin besar dan bertambah besar. Tak terukur.

Pengabdian, cinta negeri, menjadi damparing, menjadi lambaring adalah sama saja kita mempersiapkan diri untuk menghadapi segala hal yang lebih besar. Sujud yang tak pernah berhenti untuk kebesaran negeri ini. Semoga Tuhan merestui.


Senin, 13 Januari 2014

Kawah Condro Dimuko

Kawah Condro Dimuko adalah kawah yang diyakini  menjadi tempat penggemblengan calon pemimpin negeri. Pemimpin dilambangkan sebagai orang yang mempunyi kekuatan lahir dan bathin, harus mampu menjadi pandega. Berada di depan sebagai panglima, sebagai lambaran, dan sebagai pengayom. Pemimpin yang menentramkan, mengademkan, membimbing, dan membawa semuanya kepada arah bernegara kepada keadaan yang diinginkan oleh semua pihak.

Dalam proses spiritual adalah laku, penggemblengan, diri pribadi. Menyatukan kepada semua unsur alam, air, tanah, udara, dan api. Pada proses penggemblengan diri, maka semua penyatuan diri dengan semua unsur itu wajib dilakukan. Maka dalam laku dikenal ada berendam di tempuran sungai, di pantai, maupun di mata air untuk menyatukan diri dengan unsur air, menyerap energinya, menyatukan diri dengan karakter air. Luwes, menyejukkan, menyesuaikan dengan wadahnya, menghidupkan (menyehatkan).

Topo Pendem, dikubur di dalam tanah, adalah saat menyatu dengan tanah tempat berpijak, ada juga yang hanya melakukan latihan dengan menempelkan seluruh badannya kepada bumi dalam jangka waktu yang agak lama (berjam-jam). Menyatukan dengan tanah, menyerap energi yang terkandung di dalamnya, artinya belajar menjadi lambaran, menjadi pijakan. Dalam dunia nyata, maka manusia yang telah menjadi satu dengan karakter tanah akan menjadi manusia yang sabar, bisa memahami dan menerima semua karakter manusia di sekitarnya, yang sangat berbeda dan bertolak belakang. Tanah adalah lambaran dan damparan.

Unsur alam berupa angin mempunyai karakter mampu menembus semua bagian, setiap relung, atau ruang kosong. Tidak terihat tapi ada, kecepatan bagaikan angin. Mewakili karakter manusia yang jeli, melihat kelebihan dan kekurangan, melihat segala kemungkinan yang terjadi.

Ketiga unsur alam tersebut dengan kekuatan yang sedikit bukanlah bencana, tetapi menguatkan, menghidupkan, dan menyejukkan. Lain halnya dengan unsur api.

Api atau cahaya, adalah unsur alam yang bersifat panas. Berlatih di bawah paparan matahari membuat semua unsur ini akan menjadi genep. Kekuatan api, adalah panas, walaupun sedikit tetapi tetap mematikan, apalagi banyak. Bagi yang mampu menguasai unsur api, maka mereka akan diberikan kemampuan ilmu perang, lahir dan bathin. Ahli strategi, mengalahkan dan mematikan. Dalam sejarah leluhur dikuasai oleh PS, Ki Juru Martani, dan BK.

Kawah Candra Dimuko dalam keilmuan bathin dimanifestasikan dengan pembakaran dirinya dengan unsur api, cahaya, panas. Di dalam tulangnya dibakar dengan api, hingga semua pembuluh darah di dalam dirinya tidak lagi menyimpan para mahluk ireng, dhemit, siluman, sebagai simbol karakter "ngiwo", karakter negatif. Seorang pemimpin yang layak di berada di depan adalah seorang yang telah melewati proses ini.

Tetapi sungguh, tidak mudah mencari seorang pelaku spiritual yang telah menyatukan dirinya dengan unsur api, unsur cahaya. Apalagi yang mampu menyatukan semua unsur  alam yang ada, bagaikan avatar, sang penguasa unsur alam. Selanjutnya penggabungan semua energi itu akan  menjadikan energi emas dan berlian perlambang kejayaan dan kemegahan suatu bangsa.

Jika di dalam suatu negeri terdapat orang yang mampu menguasai ilmu ini dengan sempurna, maka bersiaplah negeri ini memasuki jaman keemasannya, kemegahannya. Maka semakin menambah keyakinan bahwa perjalanan dunia spiritual dan di dunia nyata pada suatu negeri tetaplah harus beriringan, karena memang demikianlah hakekat keseimbangan.


Minggu, 12 Januari 2014

Rumah Tinggal (Tempat) Mahluk Halus

Jika melihat todan aji. Keris, tombak, kemudian batu mulia, adalah rumah yang paling bagus buat para mahluk halus. Tetapi sebenarnya rumah mahluk halus bukan hanya tosan aji saja, mereka ada yang tinggal di pohon, di batu, di mana saja mereka ada.

Hakekat mahluk halus memang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Demikian juga sejatinya manusia yang sudah belajar spiritual. Tetapi mereka tetap membutuhkan tempat yang tinggal yang tidak mudah diusik, privacy.

Jika selama ini manusia hanya mengenal rumah yang disebutkan di atas, maka sebenarnya ada satu rumah lagi yang sangat luas, bisa seperti kebun besar, bisa jadi seperti negara atau propinsi. Maka tempat tinggal yang maha luas, yang bisa diisi beraneka ragam mahluk halus adalah manusia.

Tulang belulang adalah layaknya tiang bangunan. Maka seringkali manusia diistilahkan dengan badan wadaq, tempat. Filosofisnya memang menjadi tempat roh sejati, roh yang menghidupkan. Selain roh, sejatinya manusia juga ditemani dengan mahluk-mahluk lainnya, yang jika dijadikan satu akan membentuk karakter manusia.

Manusia adalah manifestasi jagad ombo dan jagad alit, makrokosmos dan mikrokosmos, manusia sebagai manusia biasa, dan manusia dalam dirinya tercermin alam semesta. Demikian yang tercantum dalam kitab-kitab filsafat. Lalu bagaimanakah?

memang tidak mudah dijelaskan. Di dalam darah manusia adalah rumah tinggal yang maha besar.Maka Rosulluloh mengajarkan kita untuk senantiasa membersihkan diri kita dengan puasa dan doa. Dalam falsafah Jawa dianjurkan untuk puasa dan menjaga jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Bagi suku Baduy dalam mereka dianjurkan menjadi vegetarian murni. demikianlah berbagai cara manusia menjaga dirinya dari pengaruh nafsu yang berawal dari makanan yang masuk ke dalam darah.

Makanan berasal dari yang haram akan kembali menjadi haram, membersihkan diri adalah sama saja menjaga diri dari segala yang tida baik.

Rabu, 11 Desember 2013

Wahyu Keprabon Salah Pilih Tempat

"Sebentar, nduk". Ki Juru Martani memanggilku dengan wajah tersenyum. Aku melihat sekilas, senyumnya bermakna aneh. Hatiku curiga, biasanya jika  Ki Juru tersenyum  tidaklah mungkin tanpa makna, makna iseng dan jail. Isi kepalanya selalu bundet dan ruwet.

Masih dengan wajah curiga aku menjawab sapaan Ki Juru, "ya, Ki?"

"Aku mau menyampaikan hal yang masih mengganjal di pikiranku, sesuatu yang tidak biasa".
"O ya? Apakah itu terkait dengan saya?"
"Ya pasti tho, nduk. Karena memang begitulah adanya, kamu itu pepunden hati para sesepuh, kelangenannya kami. Segala sesuatu yang menyangkut dunia batin nusantara ini tidak akan jauh-jauh dari dirimu".

Aku tidak dapat menutupi rasa curigaku, Ki Juru adalah perlambang kemenangan strategi perang, puncak keilmuan bathin, tetapi Ki Juru juga gudangnya keisengan, meledek, dan mengerjai orang. Dan aku, sebagai satu-satunya momongan, adalah korbannya yang tak pernah ada habisnya.

"Wahyu keprabon atau wahyu kedaton perlambang sebuah titisan, sebuah wahyu yang melambangkan anugrah sebuah kepimpinan negeri, puncak kekuasaan adalah impian dan pujaan dari setiap pemuja kekuasaan. Perempuan yang menjadi wadahnya juga perempuan pilihan, bukan sembarangan. Selain ayu dan cantik, biasanya adalah turunan ningrat, berdarah biru. Seorang Ken Arok tega membunuh Tunggul Ametung dengan Keris buatan Mpu Gandring untuk mendapatkan Ken Dedes. Seorang penguasa akan kehilangan wahyunya jika pendampingnya sudah meninggal. Begitulah  hebatnya kebesaran wahyu keprabon yang manjing kepada perempuan sebagai perantara, pemegang wahyu kedaton. Wahyu keprabon, pralambang puncak kekuasaan negeri, begitu mempesona, hingga siapapun pasti menginginkannya".

Ki Juru berhenti sejenak, diam, sekilas melihatku. Perasaanku mulai terasa tidak enak tetapi aku berusaha tetap diam tanpa ekspresi menunggu penjelasan Ki Juru.  Kupasang pendengaranku, dengan menahan diri untuk tidak meninggalkan paseban agung. Melihat Ki Juru tersenyum aku semakin curiga.

"Lha sekarang ini jamannya memang sedang jaman edan, jamane kowalik walik, ireng dadi putih, apik dadi elek, elek dadi apik. Sampai namanya wahyu keprabon kewalik dadi wahyu kedaton. Putri yang kepanggonan wahyu kedaton sing biasane ayu kemayu  mawiru-wiru, lha kok yo saiki melu kowalik walik. Kebalik yang parah sekali, masak sesuatu yang demikian besar dan demikian agung kok ya jatuh di dirimu. Hahahha". Ki Juru tertawa terpingkal-pingkal. "Kamu itu sudah  tuwek, jelek, ireng tuntheng koyo areng tur lemu ginuk-ginuk menuk menuk. Kelakuannya saja  kurang ajar, nyelelek, ora sopan, ora iso dithotho. Jauh dari sopan, jauh dari bener. Jangankan mau mengambil sebagai pendamping hidup, melihat saja males, apalagi mendekat. Hoa hoa...", sungguh Ki Juru tertawa tergelak-gelak tanpa dapat dikendalikan lagi, dan berikutnya aku menyusul tertawa walaupun tidak sekeras Ki Juru. Kami tertawa bersama-sama. Benar saja, kecurigaanku tidak salah, tetapi apa yang disampaikan Ki Juru benar-benar lucu. Sungguh Ki Juru adalah simbol kelucuan di dunia jagad bathin, dunia para sesepuh. sebagai satu-satunya korban ledekan Ki Juru, lama-lama aku sudah kebal. Gurauannya selalu membuatku tertawa, lucu dan tidak pernah membosankan.

"Ki Juru, bagaimana mungkin saya bisa cantik menarik, jika setiap hari harus berlatih di bawah paparan matahari siang. Malam harus berlatih di alam terbuka. Jadilah saya yang gagah perkasa hitam legam bagaikan Mahapatih Gajahmada, kebungkus awak wadhon." 

"Kuwi awakmu lemu opo pothok (kekar), tho?" Ki Juru masih tersenyum meledekku. 
"Otot kawat balung wesi tapi gosong, Ki", aku menjawab tak mau kalah. 

"Otot kawat balung wesi sing koyo Werkudoro kuwi yo tetep gagah pidhekso, khi nduk. Iki otot kawat balung kayu seko glugu tur wes gimbur-gimbur, hahahhaha". Ki Juru berusaha menahan ketawanya, dan melanjutkan,"Yo yo yo, memang harus jatahnya sekarang ini pemangku Wahyu keprabon harus yang berbadan kekar berhati jembar, dan ada lagi, harus edan dan gendeng. Gandeng sekarang ini jamannya jaman edan, maka harus dihadapi dengan berpikir seperti layaknya wong edan. Dan kamu? hahahhaa, kamu adalah orang yang memenuhi syarat ini. Membawa tugas berat, harus kuat raganya, kekar, biar tidak gampang jatuh terkena serangan-serangan maut. Otaknya tidak waras, edan tenanan dan memang kurang ajar dari bawaan bayinya, untuk menghadapi orang-orang dan tatanan jaman yang sudah menggila, mengobrak-abrik tatanan yang sudah tidak layak dipertahankan. Memandang dari sudut yang terbalik, hahahaha, gendukku sing ayu dewe emane kok uthekke gendeng. Menyerang dari arah yang sama, tentu sjaa tidak akan berhasil, karena mereka sudah menyusun pagar tembok dari bethon, yang tak akan hancur diserang oleh wedhus gembel sekalipun. Kali ini kamu harus melakukannya dari sisi yang berbeda, dan ini hanya bisa dilakukan oleh  orang-orang yang memang dasarnya utheknya sudah kewalik-walik sepertimu. Uthek bundet tur ruwet, nanging kok ya cespleng tho ya. Cerdas dan mumpuni walaupun athinya sak tumlik, cilik, tur nangisan. hahahhah". Ki Juru mengakhiri pituturnya dengan tertawa terbahak-bahak. 

Sungguh sudah kebal rasa hatiku mendengar semua guyonan dan celelekan ala Ki Juru, guyonan waton tur maton. Melaksanakan tugas berat memang membutuhkan bekal yang tidak sedikit. Aku harus mampu melakukan olah rogo, dengan melakukan gerakan dan olah nafas di bawah paparan matahari, sedangkan untuk mengolah kekuatan rasa, juga harus dibarengi dengan olah raga di bawah paparan rembulan, udara malam yang dingin dan menusuk tulang. Semua harus seimbang, bahkan kadangkala diselingi dengan berendam air di sungai tempuran atau di pinggir pantai. Urip kuwi laku, urip kuwi laku kanthi mlaku, mlaku kanthi laku. Sebuah putaran kehidupan yang satu menajdi bagian yang lainnya, jangan pernah memisahkannya. memisahkan berarti menghilangkan maknanya. 

Kekuatan bathin harus berada di dalam raga yang kuat. Kekuatan bathin akan menjadi lebih bagus lagi jika disertai dengan kemampuan intelektual. Tiga hal yang tidak dapat dipisahkan, cipto, roso dan karso. Semua saling berkaitan, menjadi dukungan dalam setiap langkah. Cipto mendukung karso, roso didukung cipto, begitu seterusnya. Niat dan semangat adalah bagian dari tindakan. Tindakan berasal dari pemikiran yang sudah tertata. Tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lain. 

Tugasku kali ini memang tidak mudah, memegang tanggung jawab negeri, pemegang wahyu keprabon, menata negeri, membuat sistem bernegara  dan membawa negeri ke arah yang lebih baik, sesuai dengan cita-cita para pendiri negeri. Melakukan pekerjaan di dunia bathin, memulai hakekat perubahan, hakekat penataan negeri dengan memulai dari sisi bathin.  Negeri ini adalah negeri  kehidupan, kepundan bumi. Menata sisi bathin dan diharapkan sisi lahirnya akan mengikuti. memutar cakra manggilingan, meniupkan hawa kebenaran dan pemikiran yang berpihak kepada rakyat. Memusnahkan sebagian besar angkara murka yang sduah mendarah daging di bumi nusantara. Melaksanakan tugas negeri, tugas bathin. Tugas yang mau tidak mau harus dilakukan, suka tidak suka, seberat apapun, sesusah apapun. Menerima dengan iklas, melaksanakan dengan pasrah, menjalani dengan keyakinan.

Kebesaran sebuah negeri dapat dicapai jika di bathin yang melingkupinya  tercipta keseimbangan semesta. Semesta lahir bathin. Menata sesuai dengan proporsinya. Sehingga semuanya tidak ada yang saling mendominasi, saling menginjak. Demikianlah diperlukan kemampuan spiritual dan intelektual dari pemimpin negeri nusantara, karena negeri ini adalah negeri spiritual. melihat hanya dari sisi lahir sama saja kita menafikkan dunia bathin yang berpengaruh besar pada kehidupan negeri ini. Hanya kepada beliau-beliau pemimpin besar dengan lambaran spiritual yang bisa menjadi besar. Jangan berharap negeri ini dibawa kepada negeri berdasarkan syariat dari tanah seberang, karena jiwa dan roh negeri ada di sini. 

Melihat situasi sekarang ini, sepertinya memang belum ada yang  layak untuk mendapatkannya. Wahyu keprabon membutuhkan syarat dan ketentuan bagi yang mendapatkannya. Si penerima harus mumpuni lahir dan bathin, berkarakter kuat dan baik. Masih ada waktu untuk berbenah, untuk menata diri, menyiapkan kemampuan diri agar pantas dan layak. 

Memimpin negeri artinya menyerahkan hidup dan dirinya untuk nusantara. menghilangkan aku, memberi dan bukan menerima, menjadi pengayom dan bukan untuk diayomi. mengendalikan dan bukan untuk dikendalikan. Menjadi panutan dan bukan menjadi pengikut. Menjadi pemimpin dan bukan yang dipimpin. Menentukanm arah perjalanan negeri dan bukan mengikuti arah. Sungguh sesuatu yang tidak bisa dinalar dengan otak dan akal manusia biasa. 

Tetapi demikianlah adanya. Dunia bathin yang sempat sumpek, kisruh, tanpa ada pemimpin, tanpa da yang mengaturm, tanpa tatanan, perlahan tapi pasti sudah mulai terlihat arahnya, terlihat tatanannya. menjadi penyegar dalam kehidupan bathin, menjadi pemimpin dan menjadi panutan. Dunia bathin adalah cerminan dunia lahir, menata bathin artinya menata dunia lahir. Melihat arahnya maka semuanya berani berharap bahwa negeri ini sedang memulai langkahnya untuk berbenah, sama dengan yang terjadi di sana. 



Selasa, 03 Desember 2013

Spiritual dan Agama

Akhir-akhir ini ketika beberapa orang sudah melakukan diskusi dengan berbagai macam latar belakang, saya malah bingung sendiri. Jika diskusi dengan orang berlatar belakang spiritual  agama akhirnya sama malah diomongi ngga bener. Bila diskusi dengan latar belakang spiritual murni, kebenaran universal maka saya juga dibilang aneh, karena dianggap memihak pada ajaran tertentu. Repot.

Jika disuruh memilih saya akan memilih diam dan tidak berdiskusi, jika saya disuruh memilih beragama apa, saya memilih tidak beragama. Wadeew alamat saya dianggap melanggar Undang-Undang bernegara, lebih repot lagi.

Spiritualitas dan agama adlah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. satu sisi mengisi sisi lainnya, melengkapi. Spiritual adalah pengolahan jiwa, pengolahan bathin yang bertujuan akhir untuk mendekatkan manusia dengan Tuhannya, bukan hanya sekedar sebuah proses bathin, olah jiwa untuk memperoleh kemampuan tertentu.

Ada beberapa paham yang melatarbelakangi orang belajar spiritual. Tanpa disadari manusia sudah berada di dunia spiritual ketika melakukan doa, ketika memilih salah satu agama, menjalankan keyakinan dan melakukan ibadahnya. Doa adalah salah satu manifestasi dari keadaan spiritual, tanpa disadari manusia telah berusaha memasuki dunia spiritual dengan segala keterbatasannya.

Seringkali terjadi perbedaan pemahaman, ketika seseorang memahami dunia spiritual, melihat dari mana asal muasal belajarnya. Mengingat dunia spiritual bagaikan dunia nyata yang beraneka ragam aliran dan spesifikasinya, bisa dianalogikan dunia keilmuan yang dibagi dengan jurusan-jurusan. Ekonomi, sosial, tehnik dst. Dalam dunia spiritual juga terbagi-bagi menjadi berbagai macam jurusan. Mulai dari jurusan ilmu keselamatan akherat, untuk bekal orang yang sudah mati, di dalam ilmu Kejawen sering disebut dengan ilmu kasepuhan. Sedangkan di dalam khasanah Islam seing disebut dengan dunia Islam Sufi.

Ada lagi yang belajar mengenai pengobatan. Pengobatan spiritual masih dibagi-bagi lagi dalam berbagai jurusan, pengobatan dengan energi. Jika di kejawen ada energi alam dengan istilah Makdun Sarpin, pernafasan dengan mengambil energi tanah. Jika di Islam menggunakan kekuatan wirid atau zikir. Banyak cara untuk melakukan pengambilan energi ini, mengingat di alam semesta ini begitu banyak energi beterbaran, dengan berbagai macam jenisnya. Dan kita sebagai manusia bebas memanfaatkannya. Di dunia nyata energi ini terwujud menjadi energi listrik dsb.

Spiritual adalah pengolahan jiwa, bathin, proses mendekatkan manusia dengan Tuhannya. Agama adalah bagian dari proses spiritual. Dalam perjalanannya agama adalah proses yang melingkupi untuk menuju kecerdasan spiritual. Walaupun  banyak kalangan agamis menganggap spiritual adalah salahbsatu cara untuk memperkuat keyakinan beragama. Ya, tergantung darimana memandangnya. Bagaikan ayam dengan telor, telor dengan ayam. Dua hal yang saling berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan satu persatu.

Dunia ini diciptakan lengkap dengan segala yang terkait di dalamnya. Tatanan, hukum alam, dunia ghaib, dunia bathin. Dunia dan seisinya lengkap. Semuanya diciptakan secara bersamaan. Hukum alam   bersifat mutlak, pasti.

Dunis diciptakan dengan berbagai perbedaan. Luas dan tak terbatas, tak mungkin otak manusia menjangkau secara lengkap bagian perbagiannya.